Pengantar Konsep
Bab ini membahas pembagian fi'il berdasarkan apakah fa'il-nya (pelaku) disebutkan atau tidak dalam kalimat — setara dengan konsep kalimat aktif dan pasif dalam bahasa Indonesia. Bedanya, dalam bahasa Arab perubahan dari aktif ke pasif ini melibatkan perubahan bentuk internal fi'il itu sendiri (harakat, bahkan penggantian huruf), bukan sekadar menambah kata bantu seperti "di-" dalam bahasa Indonesia. Bab ini menjadi sangat teknis karena harus mempertimbangkan jenis-jenis fi'il yang sudah dibahas di Bab 4 (shahih, mu'tal, mahmuz, mudha''af).
Fi'il Mabni Ma'lumالضابط الأول
Definisi: fi'il yang fa'il-nya disebutkan secara eksplisit dalam kalimat, atau ditaqdirkan (diperkirakan/tersirat maknanya meski tidak disebut kata per kata). Inilah bentuk "aktif" — pelaku pekerjaan jelas diketahui, baik disebutkan langsung maupun tersirat dari konteks.
Fi'il Mabni Majhulالضابط الثاني
Istilah lain: disebut juga مَا لَمْ يُسَمَّ فَاعِلُهُ (apa yang tidak disebutkan fa'ilnya) — istilah klasik yang sering dipakai ulama Nahwu-Sharaf sebelum istilah "majhul" menjadi lebih populer.
Definisi: fi'il yang fa'il-nya dibuang (tidak disebutkan), dan digantikan oleh naib fa'il (pengganti fa'il) — yaitu maf'ul bih yang "dipromosikan" mengambil posisi gramatikal fa'il karena fa'il aslinya sudah tidak disebut.
Perubahan-Perubahan pada Pembentukan Fi'il Majhulالضابط الثالث
Ini adalah dhabith paling panjang dan teknis di bab ini, membahas cara membangun fi'il madhi dan mudhari' menjadi bentuk majhul, dengan berbagai perubahan tergantung jenis fi'ilnya.
Fi'il Madhi
Tsulatsi shahih 'ain, tanpa tadh'if
Aturan dasar (kasus paling sederhana): huruf pertama wajib didhammahkan, dan huruf sebelum akhir wajib dikasrahkan.
(memukul → dipukul) — fathah pada ض berubah jadi dhammah, fathah pada ر (sebelum akhir) berubah jadi kasrah. Ini "rumus dasar" yang berlaku untuk semua fi'il tsulatsi madhi yang shahih 'ain-nya dan tidak mudha''af.
Tsulatsi mu'tal 'ain (ajwaf) — boleh tiga cara
Karena huruf 'ain-nya adalah huruf 'illat, aturan dasar tidak bisa langsung diterapkan. Ketiga cara berikut sama-sama sah, tergantung dialek/kebiasaan pengucapan:
Asal kata: صَامَ (berpuasa). Isymam adalah melafalkan huruf fa' kalimah di antara dhammah dan kasrah (bunyi campuran, tidak murni keduanya).
Tsulatsi mudha''af ('ain dan lam sejenis) — boleh tiga cara
Sama seperti ajwaf, fi'il mudha''af juga punya tiga cara yang diperbolehkan pada huruf fa'-nya:
Asal kata: رَدَّ (mengembalikan). Karena 'ain dan lam sudah digabung jadi satu huruf bertasydid (idgham), perubahan majhul-nya hanya terjadi pada huruf fa' saja — berbeda dari fi'il salim biasa yang perubahannya ada di dua tempat.
Fi'il berwazan فَاعَلَ
Alif pada wazan فَاعَلَ (Bab 2) berubah menjadi wawu, disertai dhammah pada huruf sebelumnya.
(memerangi → diperangi) — alif setelah ق berubah jadi wawu, dan ق sendiri didhammahkan mengikuti aturan dasar majhul.
Fi'il yang dimulai hamzah washal
Huruf ketiga didhammahkan, bersamaan dengan huruf pertamanya (bukan huruf sebelum akhir seperti fi'il tsulatsi biasa).
(menang → dimenangkan; mempekerjakan → dipekerjakan). Pada اسْتَخْدَمَ: huruf pertama (hamzah washal) tetap tapi dibaca dhammah saat washal, huruf ketiga (ت) didhammahkan, dan huruf sebelum akhir (د) dikasrahkan — ada dua tempat perubahan: huruf ketiga dan huruf sebelum akhir.
Fi'il yang dimulai ta' tambahan
Huruf kedua didhammahkan, bersamaan dengan huruf pertamanya.
(belajar → diajarkan/dipelajarkan) — huruf pertama (ت) didhammahkan, dan huruf kedua ('ain fi'il, ع) juga didhammahkan — pola yang agak berbeda dari fi'il berhamzah washal di atas.
Fi'il Mudhari'
Aturannya lebih sederhana dan seragam dibanding madhi: huruf pertama didhammahkan, dan huruf sebelum akhir difathahkan.
Aturan Dasar
(dia berterima kasih → dia diterima kasih/disyukuri)
Kasus Khusus: Ya'/Wawu Sebelum Akhir
Jika huruf sebelum akhir pada mudhari' berupa ya' atau wawu (fi'il mu'tal lam atau ajwaf tertentu), kedua huruf tersebut berubah menjadi alif.
(dia menjual → dia dijual) — ي sebelum akhir berubah jadi ا
(dia berpuasa → dipuasakan, dalam konteks tertentu) — و sebelum akhir berubah jadi ا
Rangkuman Bab 6
Konsep Dasar
| Istilah | Definisi |
|---|---|
| Mabni Ma'lum | Fa'il disebutkan/tersirat |
| Mabni Majhul | Fa'il dibuang, diganti naib fa'il |
Perubahan Fi'il Madhi Menjadi Majhul
| No | Jenis Fi'il | Aturan | Contoh |
|---|---|---|---|
| 1 | Tsulatsi shahih 'ain, tanpa tadh'if | Huruf 1 dhammah, huruf sebelum akhir kasrah | ضَرَبَ → ضُرِبَ |
| 2 | Tsulatsi mu'tal 'ain (ajwaf) | 3 cara: kasr+ya' / dhamm+wawu / isymam | صَامَ → صِيمَ / صُومَ / صُوِمَ |
| 3 | Tsulatsi mudha''af | 3 cara: dhamm / kasr / isymam pada fa' | رَدَّ → رُدَّ / رِدَّ |
| 4 | Wazan فَاعَلَ | Alif → wawu, huruf sebelumnya dhammah | قَاتَلَ → قُوتِلَ |
| 5 | Diawali hamzah washal | Huruf ke-3 dhammah + huruf 1 dhammah (washal) | انْتَصَرَ → أُنْتُصِرَ |
| 6 | Diawali ta' tambahan | Huruf ke-2 dhammah + huruf 1 dhammah | تَعَلَّمَ → تُعُلِّمَ |
Perubahan Fi'il Mudhari' Menjadi Majhul
| Aturan Dasar | Kasus Khusus (mu'tal) |
|---|---|
| Huruf 1 dhammah, huruf sebelum akhir fathah | Ya'/wawu sebelum akhir → alif |
| يَشْكُرُ → يُشْكَرُ | يَبِيعُ → يُبَاعُ، يَصُومُ → يُصَامُ |
Bab 6 ini sangat bergantung pada klasifikasi fi'il di Bab 4 (shahih, mu'tal ajwaf, mudha''af) dan pemahaman wazan-wazan mazid di Bab 2 (terutama فَاعَلَ, fi'il berhamzah washal, dan fi'il berta' tambahan) — karena setiap jenis fi'il punya pola perubahan majhul yang berbeda-beda. Pemahaman bab ini juga menjadi dasar penting untuk Bab 8, khususnya bagian isim maf'ul, yang pembentukannya diambil langsung dari bina fi'il mabni majhul.