Pengantar Konsep
Mashdar adalah bentuk kata benda yang menunjukkan kejadian/peristiwa tanpa terikat waktu tertentu — berbeda dengan fi'il yang selalu terikat waktu (madhi/mudhari'/amr). Misalnya كِتَابَة (penulisan) hanya menunjukkan "aktivitas menulis" secara umum, tanpa menyebut kapan aktivitas itu terjadi. Bab ini adalah salah satu bab terpanjang dalam kitab karena membahas lima jenis mashdar sekaligus: mashdar ashli, mashdar mimi, mashdar shina'i, isim marrah, dan isim hai'ah. Bab ini juga sangat bergantung pada pemahaman Bab 2 (wazan-wazan fi'il mujarrad dan mazid).
Mashdar Ashli
1 Pengertian الضابط الأول▾
Mashdar yang menunjukkan kejadian yang murni (semata-mata peristiwa/aktivitas) tanpa terikat pada waktu tertentu.
2 Mashdar Fi'il Tsulatsi الضابط الثاني▾
Bagian ini paling kompleks karena mashdar tsulatsi bersifat sima'i (harus dihafal, tidak sepenuhnya bisa diprediksi dengan kaidah) — namun kitab memberikan delapan pola kecenderungan umum berdasarkan makna fi'ilnya:
Menunjukkan pekerjaan/profesi — mis. صِيَاغَة (mengukir perhiasan), كِتَابَة (tulis-menulis sebagai keahlian)
Menunjukkan gerakan tak menentu (idhtirab) — mis. غَلَيَان (mendidih), جَوَلَان (berputar-putar)
Menunjukkan warna — kemerahan, kekuningan
Menunjukkan cara berjalan — perjalanan, merayap
Menunjukkan penyakit — pusing (فُعَال), sakit (فَعَل)
Menunjukkan suara — ringkikan kuda, tangisan, ringkikan keledai
Menunjukkan penolakan/keengganan — penolakan, melarikan diri
8. Jika tidak termasuk ketujuh makna di atas — pola umum berdasarkan wazan fi'ilnya
Ini adalah kaidah "cadangan" untuk fi'il-fi'il tsulatsi yang maknanya tidak masuk kategori khusus 1–7 di atas:
Mashdarnya berwazan فُعُولَة atau فَعَالَة. Contoh: كُهُولَة (usia paruh baya, dari كَهُلَ), فَصَاحَة (kefasihan, dari فَصُحَ).
Mashdarnya berwazan فَعَل. Contoh: فَرَح (kegembiraan, dari فَرِحَ), وَجَع (rasa sakit, dari وَجِعَ).
Mashdarnya berwazan فُعُول. Contoh: قُعُود (duduk, dari قَعَدَ), جُلُوس (duduk, dari جَلَسَ).
Mashdarnya berwazan فَعْل. Contoh: فَهْم (pemahaman, dari فَهِمَ), فَتْح (pembukaan, dari فَتَحَ).
3 Mashadir Fi'il Ruba'i الضابط الثالث▾
Berbeda dari tsulatsi yang sima'i, mashdar fi'il ruba'i (baik mujarrad maupun mazid) jauh lebih qiyasi (bisa diprediksi dengan kaidah pasti):
Empat variasi tergantung jenis huruf fa'-'ain-lam:
Fa' wawu → wawu jadi ya': أَوْجَدَ ← إِيجَاد
Lam huruf 'illat → alif jadi hamzah: أَعْطَى ← إِعْطَاء
'Ain alif (ajwaf) → alif dibuang, +ta' (wazan إِفَالَة): أَعَادَ ← إِعَادَة
Lam mu'tal → ya' dihapus, +ta' marbuthah (wazan تَفْعِلَة): زَكَّى ← تَزْكِيَة
Lam hamzah → boleh dua wazan: خَطَّأَ ← تَخْطِئَة atau تَخْطِيء
Dua-duanya sama-sama sah dan sering dipakai.
Contoh lain: بَهْرَجَ ← بَهْرَجَة, بَعْثَرَ ← بَعْثَرَة
Variasi untuk fi'il mudha''af ruba'i (Bab 4): boleh dua wazan.
Asal: زَلْزَلَ
4 Mashadir Fi'il Khumasi الضابط الرابع▾
Fi'il khumasi (lima huruf, hasil tambahan pada tsulatsi) juga qiyasi, dengan empat pola sesuai wazan asalnya (merujuk pada wazan-wazan tsulatsi mazid +2 huruf dari Bab 2):
5 Mashadir Fi'il Sudasi الضابط الخامس▾
Fi'il sudasi (enam huruf, tambahan tiga huruf pada tsulatsi — merujuk wazan اسْتَفْعَلَ dan sejenisnya dari Bab 2):
Harakat 'ain dipindah ke huruf sukun sebelumnya, kemudian 'ain dibuang dan digantikan ta' ta'nits sebagai kompensasi di akhir mashdar.
Alifnya berubah menjadi hamzah pada mashdar.
Mashdar Mimi
1 Pengertian الضابط الأول▾
Mashdar yang diawali huruf mim tambahan (bukan mim asli dari akar kata, dan bukan pula mim untuk makna mufa'alah/kebersamaan), untuk menunjukkan kejadian murni tanpa terikat waktu — fungsinya sama seperti mashdar ashli, hanya bentuknya berbeda (pakai awalan mim).
2 Cara Pembentukan الضابط الثاني▾
Kasus khusus: mitsal wawi + lam shahih pada mudhari' → wazan مَفْعِل: وَقَفَ ← مَوْقِف (bukan مَوْقَف)
Fi'il mudha''af: 'ain boleh fathah atau kasrah — dua-duanya sah:
Asal: شَدَّ
Ambil bentuk mudhari' fi'il tersebut, ganti huruf mudhara'ah (huruf awal yang menunjukkan subjek, seperti ي pada يَفْعَل) menjadi mim berharakat dhammah, dan huruf sebelum akhirnya dikasrahkan.
Sebagian mashdar mimi mendapat tambahan ta' marbuthah di akhirnya, tanpa mengubah makna dasarnya.
manfaat
kegembiraan/kesenangan
Mashdar Shina'i
1 Pengertian الضابط الأول▾
Isim buatan (mashnu') dari isim lain, dengan cara menambahkan ya' bertasydid diikuti ta' marbuthah di akhirnya, untuk menunjukkan suatu sifat/karakteristik abstrak yang melekat pada makna isim aslinya.
Ini adalah pola yang sangat produktif dalam bahasa Arab modern — banyak istilah ilmiah dan konsep abstrak kontemporer dibentuk dengan pola ini.
2 Cara Pembentukan — Bisa Dari Tujuh Sumber الضابط الثاني▾
Isim Marrah
1 Pengertian الضابط الأول▾
Mashdar yang menunjukkan terjadinya suatu kejadian satu kali saja (bukan berulang-ulang) — fungsinya mirip dengan menambahkan kata "sekali" pada kata kerja dalam bahasa Indonesia.
2 Cara Pembentukan الضابط الثاني▾
satu kali pukulan
satu kali pandangan/lirikan
(mashdar asli انْطِلَاق, ditambah ta' di akhir untuk makna "satu kali keberangkatan")
Tidak bisa lagi ditambah ta', sehingga dipakai kata sifat tambahan مَرَّةً وَاحِدَةً (satu kali) untuk makna yang sama.
دَعَوْتُهُ دَعْوَةً وَاحِدَةً (aku mengundangnya satu kali undangan)
Isim Hai'ah
1 Pengertian الضابط الأول▾
Mashdar yang menunjukkan bentuk/keadaan/cara suatu perbuatan terjadi — bukan berapa kali terjadinya (seperti isim marrah), melainkan bagaimana perbuatan itu dilakukan.
2 Cara Pembentukan الضابط الثاني▾
cara membunuh/bentuk pembunuhan tertentu
Karena wazan mashdar dari fi'il selain tsulatsi umumnya sudah unik (tidak akan bertabrakan dengan pola lain), boleh langsung ditambahkan sifat atau idhafah penjelas.
الْتَفَتَ الطَّائِرُ الْتِفَاتًا مَذْعُورًا (burung itu menoleh dengan tolehan yang ketakutan) — dengan sifat
الْتِفَاتَ المَذْعُورِ (tolehan orang yang ketakutan) — dengan idhafah
Boleh juga ditambahkan ta' pada mashdar jika belum berakhiran ta', sebagaimana pola isim marrah.
Rangkuman Bab 7
| Jenis Mashdar | Fungsi | Ciri Pembentukan Utama |
|---|---|---|
| Mashdar Ashli | Kejadian murni tanpa waktu | Tsulatsi: sima'i (8 pola makna + pola umum); Ruba'i & sudasi: qiyasi mengikuti wazan |
| Mashdar Mimi | Sama seperti ashli, berawalan mim | مَفْعَل (tsulatsi) atau mim+wazan mudhari' (selain tsulatsi) |
| Mashdar Shina'i | Menunjukkan sifat/karakteristik | Ya' bertasydid + ta' marbuthah, dari 7 sumber berbeda |
| Isim Marrah | Terjadi satu kali | فَعْلَة (tsulatsi) atau mashdar asli + ta' |
| Isim Hai'ah | Bentuk/cara terjadinya | فِعْلَة (tsulatsi) atau mashdar asli + sifat/idhafah |
Bab 7 adalah bab yang paling banyak merujuk kembali ke Bab 2 (wazan-wazan fi'il) dan Bab 5 (muta'addi-lazim), karena hampir seluruh aturan mashdar bergantung pada wazan asal fi'ilnya. Pemahaman bab ini juga menjadi persiapan penting untuk Bab 8 (Musytaqqat), karena beberapa bentuk isim tafdhil membutuhkan mashdar sharih (mashdar ashli) sebagai tamyiz.