'Ilmu Sharaf · Bab 8

المشتقات

Musytaqqat — Kata-Kata Bentukan

Fasih Academy

Berdasarkan kitab «البداية في علم الصرف» karya Ali An-Namr

Pengantar Konsep

Ini adalah bab terpanjang dan paling kaya di kitab, membahas tujuh jenis isim musytaq (kata bentukan, sudah diperkenalkan konsepnya di Bab 3): isim fa'il, shighah mubalaghah, isim maf'ul, shifah musyabbahah, isim tafdhil, isim zaman-makan, dan isim alat. Semua jenis ini "menumpang" pada wazan-wazan fi'il yang sudah dibahas panjang lebar di Bab 2, dan sangat bergantung pada klasifikasi shahih-mu'tal dari Bab 4.

(1)

Isim Fa'il

1 Pengertian الضابط الأول▾

Isim bentukan untuk menunjukkan siapa/apa yang darinya suatu perbuatan terjadi, atau yang melakukan perbuatan itu — dengan makna kejadian saat ini (sedang terjadi), bukan makna yang tetap/permanen. Ini adalah pembeda penting isim fa'il dari shifah musyabbahah — isim fa'il menunjukkan keadaan sementara/sedang berlangsung, sedangkan shifah musyabbahah menunjukkan sifat yang melekat tetap.

2 Cara Pembentukan الضابط الثاني▾
1 · Dari tsulatsi → فَاعِل
فَهِمَ→فَاهِم

'Ain berupa alif hasil hamzah: alif dikembalikan jadi hamzah. قَالَ (asal قَوَلَ) → قَائِل (bukan قَاول); بَاعَ → بَائِع.

Fi'il mu'tal lam: ya' dibuang saat rafa'/jar bertanwin, tetap saat nashab. سَعَى → سَاعٍ (rafa'/jar), رَضِيَ → رَاضٍ. Didahului أَلْ (tanpa tanwin): القَاضِي والدَّاعِي (ya' tetap terlihat).

2 · Selain tsulatsi → ikut wazan mudhari'

Sama seperti mashdar mimi: ganti huruf mudhara'ah jadi mim dhammah, huruf sebelum akhir dikasrahkan (bedanya dengan mashdar mimi: mashdar mimi difathahkan, isim fa'il dikasrahkan).

انْتَصَرَ (يَنْتَصِرُ)→مُنْتَصِر
(2)

Shighah Mubalaghah

1 Pengertian الضابط الأول▾

Isim bentukan yang menunjukkan dzat yang darinya suatu perbuatan terjadi dengan sangat sering/berlebihan (mubalaghah = melebih-lebihkan) — semacam "versi intensif" dari isim fa'il. Kalau isim fa'il كَاتِب berarti "orang yang menulis", maka shighah mubalaghah dari akar yang sama bisa berarti "orang yang sangat sering/gemar menulis".

2 Lima Wazan Shighah Mubalaghah الضابط الثاني▾

Kelima wazan ini semuanya dibentuk dari fi'il tsulatsi:

1فَعَّالغَفَّار

Maha Pengampun — yang sangat sering mengampuni

2مِفْعَالمِنْحَار

yang sangat suka menyembelih

3فَعُولصَبُور

yang sangat sabar

4فَعِيلعَلِيم

Maha Mengetahui — yang sangat berilmu

5فَعِلحَذِر

yang sangat berhati-hati/waspada

Kelima wazan ini banyak dijumpai dalam Asma'ul Husna (nama-nama Allah), seperti غَفَّار dan عَلِيم, karena maknanya yang menunjukkan sifat berlebihan/sempurna sangat cocok untuk menggambarkan sifat-sifat keagungan Allah.
(3)

Isim Maf'ul

1 Pengertian الضابط الأول▾

Isim bentukan dari fi'il mabni majhul (Bab 6), untuk menunjukkan siapa/apa yang terkena suatu perbuatan, dengan makna kejadian saat ini. Karena dibentuk dari fi'il majhul, isim maf'ul hanya bisa dibentuk dari fi'il muta'addi (Bab 5) — kalau fi'ilnya lazim, tidak ada "sesuatu yang dikenai perbuatan" yang bisa dijadikan isim maf'ul.

2 Enam Cara Pembentukan الضابط الثاني▾
1مَفْعُولكَتَبَ → مَكْتُوب

Tsulatsi shahih 'ain dan lam

2مَفُولمَصُون، مَخُوف

'Ain mu'tal dengan wawu (wawu tetap, tanpa 'ain terpisah)

3مَفِيلمَدِين، مَعِيب

'Ain mu'tal dengan ya'

4مَفْعُوّمَرْجُوّ، مَغْزُوّ

Lam mu'tal dengan wawu (wawu bertasydid di akhir)

5مَفْعُوليّمَبْنِيّ، مَخْشِيّ

Lam mu'tal dengan ya' (kemudian disederhanakan)

6 · Tambahan 3 huruf → ikut wazan mudhari'

Ganti huruf mudhara'ah jadi mim dhammah, huruf sebelum akhir difathahkan (bedanya dengan isim fa'il yang dikasrahkan — isim maf'ul harakatnya fathah karena "dikenai" bukan "melakukan").

مُسْتَخْرَج

yang dikeluarkan

مُسْتَعَان

yang dimintai pertolongan

Rangkuman perbedaan harakat: dari kasus 1–5 terlihat pola bahwa isim maf'ul dari tsulatsi selalu punya "mim" di depan dan huruf 'illat/akhir yang khas tergantung posisi 'illat-nya (mengikuti klasifikasi Bab 4: mitsal, ajwaf, naqish, dst.) — mirip pola isim zaman-makan nanti, hanya beda fungsinya.
(4)

Shifah Musyabbahah

1 Pengertian الضابط الأول▾

Sifat yang lepas dari ikatan waktu (mujarradah minaz zaman), dibentuk khusus dari fi'il lazim (bukan muta'addi — kebalikan dari isim maf'ul), untuk menunjukkan makna yang tetap/permanen pada sesuatu yang disifati. Inilah pembeda utamanya dengan isim fa'il: isim fa'il menunjukkan keadaan sementara ("sedang..."), sedangkan shifah musyabbahah menunjukkan sifat yang melekat selamanya (mis. حَسَنٌ = "tampan" sebagai sifat permanen).

2 Cara Pembentukan — Dua Bagian Besar الضابط الثاني▾

a. Dari Fi'il Tsulatsi Berwazan فَعِلَ — Tiga Sub-Pola

فَعِل(mudzakkar)·فَعِلَة(mu'annats)

Menunjukkan gembira/sedih

فَرِحٌ/فَرِحَةٌgembira, dari فَرِحَ
قَلِقٌ/قَلِقَةٌgelisah, dari قَلِقَ
أَفْعَل(mudzakkar)·فَعْلَاء(mu'annats)

Menunjukkan warna, cacat, atau perhiasan

أَزْرَقُ/زَرْقَاءُbiru, dari زَرِقَ
أَعْرَجُ/عَرْجَاءُpincang, dari عَرِجَ
أَرْقَشُ/رَقْشَاءُberbintik-bintik, dari رَقِشَ
فَعْلَان(mudzakkar)·فَعْلَى(mu'annats)

Menunjukkan kekosongan/kepenuhan

جَوْعَانُ/جَوْعَىlapar, dari جَاعَ
رَيَّانُ/رَيَّاkenyang minum/segar, dari رَوِيَ
عَطْشَانُ/عَطْشَىhaus, dari عَطِشَ
شَبْعَانُ/شَبْعَىkenyang makan, dari شَبِعَ

b. Dari Fi'il Lazim Tsulatsi Berwazan فَعُلَ

Empat wazan khusus فَعُلَ murni:

1فَعَلٌحَسَنٌ

baik/tampan, dari حَسُنَ

2فُعُلٌجُنُبٌ

dalam keadaan junub, dari جَنُبَ

3فَعَالٌجَبَانٌ

pengecut, dari جَبُنَ

4فُعَالٌشُجَاعٌ

pemberani, dari شَجُعَ

Enam wazan yang berlaku bersama untuk فَعِلَ dan فَعُلَ, tergantung kata spesifiknya:

1 · فَعْلٌ — سَبْطٌ(rambut lurus, dari سَبِطَ)/ضَخْمٌ(besar/gemuk, dari ضَخُمَ)
2 · فِعْلٌ — صِفْرٌ(kosong, dari صَفِرَ)/مِلْحٌ(asin, dari مَلُحَ)
3 · فُعْلٌ — مُرٌّ(pahit, dari مَرِرَ)/صُلْبٌ(keras, dari صَلُبَ)
4 · فَعِلٌ — فَرِحٌ(gembira, dari فَرِحَ)/نَجِسٌ(najis, dari نَجُسَ)
5 · فَاعِلٌ — صَاحِبٌ(sahabat, dari صَحِبَ)/طَاهِرٌ(suci, dari طَهُرَ)
6 · فَعِيلٌ — بَخِيلٌ(kikir, dari بَخِلَ)/كَرِيمٌ(mulia, dari كَرُمَ)
Wazan فَاعِلٌ (5) dan فَعِيلٌ (6) sepintas terlihat identik dengan wazan isim fa'il dan shighah mubalaghah! Perbedaannya bukan pada bentuk hurufnya, melainkan pada makna dan fungsi gramatikalnya — صَاحِبٌ dan طَاهِرٌ di sini berfungsi sebagai sifat tetap (shifah musyabbahah), bukan pelaku yang sedang beraksi (isim fa'il).
(5)

Isim Tafdhil

1 Pengertian الضابط الأول▾

Isim berwazan أَفْعَل untuk menunjukkan bahwa dua hal berbagi/berkumpul dalam suatu sifat yang sama, namun salah satunya melebihi yang lain dalam sifat tersebut. Contoh sederhana: "Ahmad lebih pintar dari Budi" — keduanya sama-sama punya sifat "pintar", tapi Ahmad melebihi Budi dalam sifat itu.

2 Cara Pembentukan الضابط الثاني▾

a. Dibentuk Langsung dari Fi'il — Jika Memenuhi TUJUH Syarat

Bagian paling ketat dalam seluruh kitab — isim tafdhil hanya bisa dibentuk langsung dari fi'il jika semua tujuh syarat berikut terpenuhi sekaligus:

1

Harus fi'il tsulatsi — tidak bisa dari selain tsulatsi.

2

Harus fi'il mutasharrif — tidak bisa dari fi'il jamid (Bab 3).

3

Harus fi'il tam — tidak bisa dari fi'il naqish (naqishut tasharruf, Bab 3).

4

Maknanya bisa dibandingkan/bertingkat — tidak bisa dari fi'il "sekali jadi" seperti مَاتَ, هَلَكَ, فَنِيَ (tidak ada "lebih mati").

5

Harus fi'il mutsbat (positif) — tidak bisa dari fi'il yang dinegasikan (manfi).

6

Harus fi'il mabni ma'lum — tidak bisa dari fi'il mabni majhul.

7

Sifatnya (jika sudah ada) tidak boleh berwazan أَفْعَل/فَعْلَاء — menghindari kerancuan dengan shifah musyabbahah warna/cacat/perhiasan yang sudah memakai wazan sama (mis. tidak bisa dari زَرِقَ karena sifatnya sudah أَزْرَق/زَرْقَاء).

b. Jika Fi'ilnya TIDAK Memenuhi Syarat

Solusinya: dibuatkan isim tafdhil dari fi'il pengganti yang memenuhi syarat (biasanya أَشَدّ = "lebih...", أَكْثَر = "lebih banyak...", wazan أَفْعَل yang netral maknanya), lalu ditambahkan mashdar sharih (mashdar ashli, Bab 7) dinashabkan sebagai tamyiz setelahnya untuk menjelaskan sifat yang dimaksud.

هو أكثر إحسانًا وأبلغ استقصاءً وأدق تحريًا وأعظم صيرورة إلى الخير وأشد حمرة
"Dia lebih banyak berbuat baiknya (dari أَحْسَنَ, bukan tsulatsi → أَكْثَر + tamyiz إِحْسَانًا), lebih menyeluruh dalam meneliti (dari اسْتَقْصَى → أَبْلَغ + tamyiz اسْتِقْصَاءً), lebih teliti dalam mencari (dari تَحَرَّى → أَدَقّ + tamyiz تَحَرِّيًا), lebih besar kecenderungannya kepada kebaikan (dari صَارَ, ajwaf → أَعْظَم + tamyiz صَيْرُورَة), dan lebih pekat merahnya (dari اِحْمَرَّ yang sifatnya sudah أَحْمَر/حَمْرَاء → أَشَدّ + tamyiz حُمْرَة)."

Contoh ini sekaligus menunjukkan lima kasus berbeda mengapa isim tafdhil tidak bisa dibentuk langsung: ada yang bukan tsulatsi, ada yang sudah mazid (اسْتَقْصَى, تَحَرَّى), dan ada yang sifatnya sudah berwazan أَفْعَل/فَعْلَاء (اِحْمَرَّ → أَحْمَر).

c. Jika Fi'ilnya Mabni Majhul atau Manfi

Solusinya mirip poin b, tapi kali ini isim tafdhil dibentuk dengan bantuan isim tafdhil netral + mashdar fi'ilnya yang dita'wil (diperkirakan maknanya, bukan mashdar sharih langsung).

القرآن أحق أن يقرأ، وأجدر أن يحفظ، والمؤمن أولى ألا يغفل عنه
"Al-Qur'an lebih berhak untuk dibaca (يُقْرَأُ = fi'il majhul → أَحَقّ + أَنْ يُقْرَأَ sebagai mashdar mu'awwal), lebih pantas untuk dihafal (يُحْفَظُ = fi'il majhul → أَجْدَر + أَنْ يُحْفَظَ), dan orang mukmin lebih utama untuk tidak melalaikannya (أَلَّا يَغْفُلَ = fi'il manfi → أَوْلَى + أَلَّا يَغْفُلَ)."

Kalimat kutipan ini sekaligus menjadi kalimat penutup pembahasan isim tafdhil di kitab, memberikan nasihat yang relevan bagi pembelajar bahasa Arab: pentingnya membaca dan menghafal Al-Qur'an.

(6)

Isim Zaman dan Isim Makan

1–2 Isim Zaman & Isim Makan الضابط الأول والثاني▾

Isim Zaman: isim bentukan untuk menunjukkan waktu terjadinya suatu perbuatan.

Isim Makan: isim bentukan untuk menunjukkan tempat terjadinya suatu perbuatan.

Kedua jenis isim ini dibahas bersama karena cara pembentukannya sama persis — perbedaannya murni pada makna konteks pemakaiannya, bukan pada bentuk hurufnya.

3 Tiga Cara Pembentukan الضابط الثالث▾

Pertama: Dua Wazan dari Fi'il Madhi Tsulatsi Berdasarkan Bentuk Mudhari'-nya

1مَفْعَىسَعَى (يَسْعَى) → مَسْعَى

Mu'tal lam — contoh lain: لَهَا يَلْهُو → مَلْهَى, رَضِيَ يَرْضَى → مَرْضَى

2مَفْتَحفَتَحَ يَفْتَحُ → مَفْتَح

Shahih, 'ain difathahkan pada mudhari'

3مَنْصَرنَصَرَ يَنْصُرُ → مَنْصَر

Shahih, 'ain didhammahkan pada mudhari'

Kedua: Dua Wazan Tambahan pada Fi'il Madhi Tsulatsi

1مَوْعِدوَعَدَ يَعِدُ → مَوْعِد

Mitsal wawi yang shahih akhirannya

2مَضْرِبضَرَبَ يَضْرِبُ → مَضْرِب

Shahih, 'ain dikasrahkan pada mudhari'

Isim zaman-makan dari fi'il shahih punya TIGA kemungkinan wazan yang sejalan dengan tiga kemungkinan harakat 'ain pada mudhari' (fathah/dhammah/kasrah — persis seperti enam bina mudhari' di Bab 2 Dhabith 6), sedangkan dari fi'il mu'tal (mitsal wawi dan mu'tal lam) polanya lebih spesifik tergantung jenis 'illat-nya.

Ketiga: Dari Selain Tsulatsi — Mengikuti Wazan Mudhari'

Sama seperti isim maf'ul dan mashdar mimi dari selain tsulatsi: ganti huruf mudhara'ah jadi mim dhammah, huruf sebelum akhir difathahkan.

اسْتَخْرَجَ (يَسْتَخْرِجُ)→مُسْتَخْرَج
Catatan penting: wazan isim zaman-makan dari selain tsulatsi ini identik dengan wazan mashdar mimi dan isim maf'ul dari selain tsulatsi! Ketiganya baru bisa dibedakan dari konteks kalimat — apakah yang dimaksud "kejadiannya" (mashdar mimi), "yang dikenai perbuatannya" (isim maf'ul), atau "waktu/tempatnya" (isim zaman-makan).
(7)

Isim Alat

1 Pengertian الضابط الأول▾

Isim bentukan untuk menunjukkan alat yang dipakai untuk melakukan suatu perbuatan.

2 Empat Kelompok Wazan Isim Alat الضابط الثاني▾

Kelompok Pertama: Wazan Klasik (Ulama Terdahulu)

1مِفْعَالمِنْشَار، مِفْتَاح

gergaji, kunci

2مِفْعَلمِبْرَد، مِثْقَب

kikir, bor

3مِفْعَلَةمِحْبَرَة، مِلْعَقَة

tempat tinta, sendok

Kelompok Kedua: Direstui Majma' Lughah (Lembaga Bahasa Arab)

Lima wazan tambahan untuk mengakomodasi istilah-istilah alat modern:

1فَعَّالَةغَسَّالَة، سَمَّاعَة

mesin cuci, headphone/alat dengar

2فَاعِلَةسَاقِيَة

kincir air

3فَاعُولسَاطُور، حَاسُوب

golok/pisau besar, komputer

4فِعَالحِزَام، قِنَاع

sabuk, masker/topeng

5فَعَّالجَرَّار

traktor

Banyak istilah teknologi modern (مِحْبَرَة, سَمَّاعَة, حَاسُوب) muncul dalam daftar ini — menunjukkan bahwa pola isim alat terus dipakai secara aktif dan produktif untuk menciptakan kosakata baru dalam bahasa Arab kontemporer.

Kelompok Ketiga: Isim Alat yang Jamid (Bukan Bentukan)

Sebagian nama alat justru bukan hasil bentukan (musytaq) dari fi'il, melainkan isim jamid yang berdiri sendiri (sesuai konsep Bab 3).

فَأْس · سِكِّين · قَلَم · قَدُوم

kapak, pisau, pena, kapak/beliung

Kelompok Keempat: Isim Alat dari Fi'il Ruba'i Mujarrad

Kadang isim alat juga terbentuk dari fi'il ruba'i mujarrad (Bab 2), berwazan فِعْلَان.

غِرْبَال · تِلْفَاز · قِسْطَاس

ayakan/saringan, televisi, timbangan/neraca

تِلْفَاز (televisi) adalah bukti bagaimana pola sharaf klasik tetap dipakai untuk menciptakan istilah teknologi modern dalam bahasa Arab.
Penutup

Rangkuman Bab 8

Jenis MusytaqMakna FungsiWazan Utama (Tsulatsi)Wazan Selain Tsulatsi
Isim Fa'ilPelaku, makna sementaraفَاعِلWazan mudhari' + mim dhammah, kasrah sebelum akhir
Shighah MubalaghahPelaku, makna berlebihanفَعَّال / مِفْعَال / فَعُول / فَعِيل / فَعِل— (khusus tsulatsi)
Isim Maf'ulObjek yang dikenai, sementaraمَفْعُول (+ variasi mu'tal)Wazan mudhari' + mim dhammah, fathah sebelum akhir
Shifah MusyabbahahSifat tetap, dari fi'il lazimBeragam (فَعِل/أَفْعَل/فَعْلَان dst.)— (khusus tsulatsi)
Isim TafdhilPerbandingan lebihأَفْعَلButuh tamyiz/mashdar mu'awwal jika tidak memenuhi 7 syarat
Isim Zaman-MakanWaktu/tempat kejadianمَفْعَل / مَفْعِل (+ variasi mu'tal)Wazan mudhari' + mim dhammah, fathah sebelum akhir
Isim AlatAlat untuk berbuatمِفْعَال / مِفْعَل / مِفْعَلَة (+ 5 wazan Majma' Lughah)فِعْلَان (dari ruba'i mujarrad)

Bab 8 adalah puncak dari seluruh bab sebelumnya — hampir semua konsep yang sudah dibahas (wazan mujarrad-mazid dari Bab 2, klasifikasi shahih-mu'tal dari Bab 4, muta'addi-lazim dari Bab 5, dan bina majhul dari Bab 6) semuanya dipakai kembali di sini untuk membentuk tujuh jenis kata bentukan. Menariknya, beberapa wazan musytaqqat yang berbeda ternyata memakai bentuk huruf yang identik, sehingga pemahaman konteks kalimat menjadi kunci utama untuk membedakan fungsi gramatikalnya.