'Ilmu Sharaf · Bab 9

التَّصْغِير

Tashghir — Bentuk Diminutif

Fasih Academy

Berdasarkan kitab «البداية في علم الصرف» karya Ali An-Namr

Pengantar Konsep

Tashghir adalah mekanisme khusus dalam bahasa Arab untuk "mengecilkan" makna sebuah kata benda — bukan hanya untuk menunjukkan ukuran fisik yang kecil, tapi juga bisa untuk menunjukkan kasih sayang, meremehkan sesuatu, atau menunjukkan jumlah/waktu yang sedikit/singkat. Secara teknis, tashghir mengubah struktur harakat sebuah isim mu'rab menjadi salah satu dari tiga pola baku: فُعَيْل، فُعَيْعِل، فُعَيْعِيل — tergantung jumlah huruf asli kata tersebut. Bab ini termasuk salah satu bab paling teknis di kitab karena banyak kasus khusus tergantung struktur kata.

1 Pengertian Tashghir الضابط الأول▾

Tashghir adalah suatu perubahan khusus dengan tujuan tertentu (untuk menunjukkan makna kecil, sedikit, sayang, atau meremehkan) yang terjadi pada isim-isim mu'rab, mengubah bentuknya menjadi salah satu dari tiga shighah (pola): فُعَيْل، فُعَيْعِل، فُعَيْعِيل.

Ciri khas ketiga pola ini adalah selalu ada huruf ya' tashghir (ي) yang disisipkan setelah huruf kedua kata asli, dengan harakat dhammah pada huruf pertama dan fathah pada ya' tersebut.

2 Empat Syarat Tashghir الضابط الثاني▾

Tidak semua isim bisa ditashghir. Ada empat syarat yang harus dipenuhi:

1

Harus berupa isim — fi'il dan huruf sama sekali tidak bisa ditashghir; tashghir eksklusif untuk kata benda.

2

Harus berupa isim mu'rab — isim mabni (dhamir, sebagian isim isyarah) tidak bisa ditashghir. Paralel dengan aturan mizan sharfi di Bab 1 yang juga mengecualikan isim mabni.

3

Bukan sesuatu yang sudah mushaghghar — tidak bisa "mentashghirkan" sesuatu yang maknanya sudah mengandung konsep kecil bawaan.

4

Harus bisa menerima tashghir — ada lima kategori yang dikecualikan (lihat di bawah).

Lima Kategori yang Dikecualikan dari Tashghir

a. Asma'ul Husna, nama malaikat, nabi, dan kitab-kitab-Nya

Mengandung unsur kemuliaan/keagungan yang tidak pantas "dikecilkan" secara linguistik.

b. Isim yang menunjukkan keseluruhan (umum)

Contoh: كُلّ، جَمِيع، أَجْمَع. Konsep "keseluruhan" berlawanan dengan konsep "pengecilan".

c. Isim yang menunjukkan sedikit (sebagian)

Contoh: بَعْض. Sudah mengandung makna "sedikit" secara inheren.

d. Isim yang menunjukkan zaman tertentu

Contoh: nama-nama hari, nama-nama bulan. Nama waktu yang sudah baku dan pasti.

e. Selain kata غَيْر dan سِوَى

Kedua kata (bermakna "selain") dikecualikan secara spesifik, kemungkinan karena fungsi gramatikalnya sebagai kata pengecualian yang sudah baku.

3 Tiga Wazan Tashghir الضابط الثالث▾
1فُعَيْلقَلَم → قُلَيْم

Khusus tashghir isim tsulatsi mujarrad (pena → pena kecil/mungil)

2فُعَيْعِلدِرْهَم → دُرَيْهِم

Khusus tashghir isim ruba'i mujarrad (dirham → dirham kecil/sedikit)

3فُعَيْعِيلعُصْفُور → عُصَيْفِير

Khusus tashghir isim khumasi mujarrad yang huruf ke-4-nya huruf 'illat (burung pipit → burung pipit kecil)

Pola dasar: semakin banyak huruf asli kata tersebut, semakin panjang shighah tashghir-nya — tsulatsi memakai فُعَيْل, ruba'i memakai فُعَيْعِل, khumasi memakai فُعَيْعِيل. Wazan ketiga punya syarat tambahan (huruf ke-4 harus huruf 'illat) — dijelaskan lebih detail di Dhabith 8.
4 Tashghir Isim Tsulatsi — Empat Kasus الضابط الرابع▾
1 · Kasus dasar

Tiga huruf murni — tashghirnya langsung mengikuti wazan فُعَيْل.

رَجُل→رُجَيْل

(laki-laki → laki-laki kecil/sedikit, bisa juga bermakna kasih sayang)

2 · Tsulatsi mudha''af

Wajib melepas idgham — huruf ganda dipisah kembali menjadi dua huruf terpisah.

قَطّ→قُطَيْط

(kucing → kucing kecil) — tasydid pada ط sudah tidak ada lagi, dua huruf ط dipisah kembali menjadi ط-ي-ط.

3 · Tsulatsi kehilangan huruf asli

Jika tersisa dua huruf, huruf yang hilang wajib dikembalikan.

عِدَة→وُعَيْدَة

(janji, asalnya وَعِدَة dengan و di depan sudah dibuang — و dikembalikan)

أَب→أُبَيّ

(ayah, aslinya أَبَو/أَبَي — huruf ketiga dikembalikan sebagai ي, diidghamkan dengan ya' tashghir jadi tasydid)

4 · Tsulatsi mu'annats tanpa ta'

Wajib ditambah ta' ta'nits di akhirnya sebagai penanda.

هِنْد→هُنَيْدَة

(Hindun, nama perempuan meski tidak berakhiran ta' aslinya)

دَار→دُوَيْرَة

(rumah, mu'annats secara majazi/kias)

5 Lima Kelompok Diperlakukan Seperti Tsulatsi الضابط الخامس▾

Meskipun secara jumlah huruf terlihat lebih dari tiga, lima kelompok isim berikut tetap ditashghir dengan pola tsulatsi (فُعَيْل), karena huruf tambahan di luar tiga huruf inti tidak dihitung:

1+alif maqshurahحُبْلَى → حُبَيْلَى

(hamil) — alif di akhir tidak dihitung sebagai huruf keempat

2+alif mamdudahصَحْرَاء → صُحَيْرَاء

(padang pasir) — alif dan hamzah di akhir tidak mengubah status tsulatsi

3+alif-nun tambahanعَطْشَان → عُطَيْشَان

(haus, sifat فَعْلَان); nama diri: عُثْمَان → عُثَيْمَان

4jamak taksir أَفْعَالأَصْحَاب → أُصَيْحَاب

(para sahabat, jamak dari صَاحِب)

Kelompok ke-4 menarik: menunjukkan bahwa tashghir tidak hanya berlaku pada isim mufrad (tunggal), tapi juga bisa diterapkan pada bentuk jamak — dengan syarat wazannya sesuai pola yang disebutkan.
6 Tashghir Isim Ruba'i — Dua Kasus الضابط السادس▾
1 · Kasus dasar

Empat huruf — mengikuti wazan فُعَيْعِل.

جَعْفَر→جُعَيْفِر
2 · Huruf ke-3 = huruf mad

Wajib diganti ya', lalu diidghamkan dengan ya' tashghir yang sudah ada, menghasilkan ya' bertasydid.

كِتَاب→كُتَيِّب

(buku, huruf mad ا di posisi ketiga → berubah jadi ي, digabung dengan ya' tashghir jadi يّ bertasydid)

7 Lima Kelompok Diperlakukan Seperti Ruba'i الضابط السابع▾

Sama seperti Dhabith 5, ada lima kelompok kata yang lebih dari empat huruf tapi tetap ditashghir dengan pola ruba'i (فُعَيْعِل):

1+ta' ta'nitsمُحَبِّرَة → مُحَيْبِرَة

tempat tinta

2+alif mamdudahخُنْفُسَاء → خُنَيْفِسَاء

kumbang

3+alif-nunزَعْفَرَان → زُعَيْفَرَان

kunyit/saffron

4mu'annats tanpa ta'زَيْنَب → زُيَيْنِب

Zainab — TIDAK ditambah ta' (beda dengan هِنْد di Dhabith 4)

5+ya' nasabعَبْقَرِيّ → عُبَيْقَرِيّ

jenius

Perhatikan bedanya dengan هِنْد pada Dhabith 4.4 — di sana هِنْد (tsulatsi) DITAMBAH ta' saat tashghir, sedangkan زَيْنَب (ruba'i) TIDAK ditambah ta' meski sama-sama nama perempuan tanpa tanda ta'nits eksplisit. Aturan penambahan ta' pada Dhabith 4.4 khusus berlaku untuk isim tsulatsi saja, tidak untuk ruba'i.
8 Tashghir Isim Khumasi dan Sudasi — Dua Kasus الضابط الثامن▾
1 · Huruf ke-4 = huruf mad

Diganti menjadi ya' pada bentuk tashghirnya (mengikuti wazan فُعَيْعِيل).

مِفْتَاح→مُفَيْتِيح

(kunci, huruf ke-4: ا)

يَنْبُوع→يُنَيْبِيع

(mata air, huruf ke-4: و)

قِنْدِيل→قُنَيْدِيل

(lampu/pelita, huruf ke-4 sudah ي sejak awal)

2 · Huruf ke-4 BUKAN huruf mad

Wajib dibuang satu atau dua huruf, supaya sesuai batas maksimal pola tashghir (فُعَيْعِيل hanya menampung lima huruf: 3 huruf asli + ya' tashghir + 1 huruf tambahan mad).

سَفَرْجَل→سُفَيْرِج

(buah quince — huruf terakhir ل dibuang)

مُسْتَغْفِر→مُغَيْفِر

(yang memohon ampun — beberapa huruf tambahan dibuang, menyisakan struktur inti)

9 Tujuh Jenis Tambahan yang Tidak Berpengaruh الضابط التاسع▾

Bagian penutup bab yang sangat praktis — tujuh jenis huruf/tanda tambahan pada sebuah isim yang diabaikan sepenuhnya saat menentukan pola tashghir (tidak dihitung sebagai huruf ke-4/ke-5 yang mengubah kategori tsulatsi/ruba'i/khumasi):

1Alamat mutsannaمُسْلِمَان → مُسَيْلِمَان
2Jamak mudzakkar salimمُسْلِمُون → مُسَيْلِمُون
3Jamak mu'annats salimمُسْلِمَات → مُسَيْلِمَات
4Ya' nasab (+4 huruf)مَغْرِبِيّ → مُغَيْرِبِيّ
5Ta' ta'nitsنَخْلَة → نُخَيْلَة
6Alif mamdudahخَضْرَاء → خُضَيْرَاء
7Alif-nun (+4 huruf)زَعْفَرَان → زُعَيْفَرَان
Prinsip umum: tashghir pada dasarnya "menimbang" hanya huruf-huruf inti/asli sebuah kata (plus paling banyak satu huruf mad tambahan untuk kasus khumasi), sementara imbuhan-imbuhan gramatikal seperti tanda jamak, tanda mutsanna, ta' ta'nits, dan ya' nasab tetap "menumpang" di posisi aslinya tanpa mengubah struktur inti tashghir.
Penutup

Rangkuman Bab 9

Tiga Wazan Dasar Tashghir

WazanUntukContoh
فُعَيْلIsim tsulatsi mujarradقَلَم ← قُلَيْم
فُعَيْعِلIsim ruba'i mujarradدِرْهَم ← دُرَيْهِم
فُعَيْعِيلIsim khumasi mujarrad (huruf ke-4 = 'illat)عُصْفُور ← عُصَيْفِير

Empat Syarat Tashghir

1) Harus isim (bukan fi'il/huruf) · 2) Harus isim mu'rab (bukan mabni) · 3) Bukan sesuatu yang maknanya sudah "kecil" bawaan · 4) Isimnya bisa menerima tashghir (bukan salah satu dari 5 pengecualian: Asma'ul Husna & nama suci, kata umum seperti كُلّ, kata sebagian seperti بَعْض, nama waktu tertentu, selain غَيْر dan سِوَى).

Kasus-Kasus Khusus

SituasiPerlakuanContoh
Tsulatsi mudha''afIdgham dilepasقَطّ ← قُطَيْط
Tsulatsi kehilangan hurufHuruf dikembalikanعِدَة ← وُعَيْدَة
Tsulatsi mu'annats tanpa ta'Ditambah ta'هِنْد ← هُنَيْدَة
Ruba'i huruf ke-3 = madDiganti ya' + idghamكِتَاب ← كُتَيِّب
Khumasi huruf ke-4 = madDiganti ya'مِفْتَاح ← مُفَيْتِيح
Khumasi huruf ke-4 ≠ madDibuang 1–2 hurufسَفَرْجَل ← سُفَيْرِج
7 jenis imbuhan gramatikalDiabaikan/tidak dihitungمُسْلِمُون ← مُسَيْلِمُون

Bab 9 ini banyak merujuk kembali ke klasifikasi Bab 4 (isim maqshur, mamdud, manqush — konsepnya dipakai pada pembahasan alif ta'nits maqshurah/mamdudah), dan menjadi pasangan pembahasan yang paralel dengan Bab 10 (Nasab) — keduanya sama-sama membahas perubahan bentuk isim berdasarkan jumlah dan jenis hurufnya, hanya tujuannya berbeda: tashghir untuk "mengecilkan" makna, sedangkan nasab untuk menunjukkan penyandaran/afiliasi.