Pengantar Konsep
Nisbat adalah mekanisme dalam bahasa Arab untuk menunjukkan penyandaran atau afiliasi suatu hal kepada hal lain — misalnya menyandarkan seseorang pada asal kotanya, atau menyandarkan sesuatu pada bidang ilmunya. Dalam bahasa Indonesia, konsep ini kurang lebih setara dengan akhiran "-i" atau "-iah". Secara teknis, nisbat dilakukan dengan menambahkan ya' bertasydid di akhir kata, dengan huruf sebelumnya dikasrahkan. Bab ini hampir sama persis strukturnya dengan Bab 9 (Tashghir) — banyak kasus khusus tergantung jenis huruf akhir kata (maqshur, mamdud, manqush — sesuai klasifikasi Bab 4).
1 Pengertian Nisbat الضابط الأول▾
Nisbat adalah proses menambahkan ya' bertasydid di akhir kata yang huruf sebelumnya dikasrahkan, untuk menunjukkan penyandaran suatu hal kepada hal lain.
2 Kaidah Umum Nisbat الضابط الثاني▾
Kaidah dasarnya sederhana: tambahkan ya' bertasydid dikasrahkan huruf sebelumnya di akhir isim yang akan dinisbatkan.
Mesir → orang Mesir/bersifat Mesir
ilmu Nahwu → ahli Nahwu/bersifat Nahwu
Inilah pola dasar yang berlaku untuk mayoritas kata dalam bahasa Arab — namun seperti halnya tashghir di Bab 9, ada banyak kasus khusus yang perlu diperhatikan tergantung struktur akhir kata.
3 Isim Berakhiran Ta' Ta'nits الضابط الثالث▾
Jika isim berakhiran ta' ta'nits (ة), huruf ta' tersebut dibuang terlebih dahulu sebelum ditambahkan ya' nisbat.
teknik/engineering → bersifat teknik
jam
Makkah → orang Makkah
Kufah → orang Kufah
4 Isim Maqshur (Berakhiran Alif) الضابط الرابع▾
Memerlukan perlakuan khusus tergantung posisi alifnya:
Diganti wawu.
riba → bersifat riba
Tergantung harakat huruf kedua:
Huruf kedua berharakat (bukan sukun): alif dibuang.
Huruf kedua sukun: tiga pilihan sama-sama sah.
Asal: طَنْطَا (kota Tanta di Mesir)
Wajib dibuang.
Prancis
Amerika
Italia
Yugoslavia
5 Isim Manqush (Berakhiran Ya') الضابط الخامس▾
Diganti wawu, huruf sebelumnya difathahkan.
yang bersedih
yang basah/lembab
Boleh dibuang atau diganti wawu — dua-duanya sah.
Asal: النَّادِي (klub/tempat berkumpul)
Asal: الدَّاعِي (yang berdoa/memanggil, isim fa'il dari دَعَا)
Wajib dibuang.
yang mendapat petunjuk
yang meninggikan diri
6 Isim Mamdud (Berakhiran Hamzah) الضابط السادس▾
Dibedakan berdasarkan asal-usul hamzahnya:
Tetap sebagai hamzah.
(permulaan → bersifat permulaan/dasar, seperti "pendidikan dasar")
Boleh tetap hamzah ATAU diganti wawu.
Asal: سَمَاء (langit, asal hurufnya wawu)
Asal: فِدَاء (tebusan, asal hurufnya ya')
Wajib diganti wawu.
(padang pasir → bersifat gurun/padang pasir)
7 Isim Berakhiran Ya' Bertasydid الضابط السابع▾
Berbeda dari Dhabith 5 (ya' tunggal) — di sini yang dibahas isim berakhiran ya' ganda/bertasydid. Pembagian berdasarkan berapa huruf sebelum ya' bertasydid tersebut:
Ya' pertama dikembalikan ke huruf asalnya (wawu/ya', tergantung akar) + fathah; ya' kedua diganti wawu.
(lipatan)
(hidup/kampung → bersifat hidup/vital — dipakai luas dalam bahasa Arab modern untuk "vital/esensial")
Ya' pertama dibuang, ya' kedua diganti wawu, disertai fathah pada huruf sebelumnya.
(Ali → keturunan/pengikut Ali)
Seluruh ya' bertasydid dibuang, digantikan ya' nisbat yang baru.
(bagian timur, sudah dalam bentuk nisbat sebelumnya)
8 Isim dengan Ya' Bertasydid Berkasrah di Tengah الضابط الثامن▾
Berbeda dari Dhabith 7 — di sini ya' bertasydid berkasrah berada di tengah kata (bukan di akhir). Untuk kemudahan pengucapan (takhfif), ya' kedua yang berkasrah dibuang, ya' pertama tetap dipertahankan, kemudian ditambahkan ya' nisbat baru di akhirnya.
tuan/pemimpin
mayat/yang mati
9 Isim Tsulatsi yang Huruf Akhirnya Dibuang الضابط التاسع▾
Paralel dengan Bab 9 (Tashghir) Dhabith 4 — isim tsulatsi yang sudah kehilangan huruf lam-nya (huruf ketiga), sehingga hanya tersisa dua huruf. Saat dinisbatkan, huruf yang hilang wajib dikembalikan, dan huruf sebelumnya difathahkan.
ayah → bersifat kebapakan/paternal
bahasa → bersifat kebahasaan/linguistik
darah → bersifat darah, seperti "peredaran darah"
Rangkuman Bab 10
Kaidah Dasar
Tambahkan ya' bertasydid dikasrahkan huruf sebelumnya. Contoh: مِصْر ← مِصْرِيّ.
Sembilan Kasus Khusus
| Dhabith | Jenis Isim | Perlakuan | Contoh |
|---|---|---|---|
| 3 | Berakhiran ta' ta'nits | Ta' dibuang | سَاعَة ← سَاعِيّ |
| 4 | Maqshur — alif di huruf 3 | Alif → wawu | قِنَا ← قِنَوِيّ |
| 4 | Maqshur — alif di huruf 4 | Dibuang (huruf 2 berharakat) / 3 pilihan (huruf 2 sukun) | كَنَدَا ← كَنَدِيّ |
| 4 | Maqshur — alif di huruf 5+ | Wajib dibuang | فَرَنْسَا ← فَرَنْسِيّ |
| 5 | Manqush — ya' di huruf 3 | Ya' → wawu, huruf sblm fathah | الشَّجِي ← الشَّجَوِيّ |
| 5 | Manqush — ya' di huruf 4 | Boleh dibuang atau diganti wawu | النَّادِي ← النَّادِيّ/النَّادَوِيّ |
| 5 | Manqush — ya' di huruf 5+ | Wajib dibuang | المُهْتَدِي ← المُهْتَدِيّ |
| 6 | Mamdud — hamzah asli | Tetap hamzah | ابْتِدَاء ← ابْتِدَائِيّ |
| 6 | Mamdud — hamzah dari wawu/ya' | Boleh tetap/diganti wawu | سَمَاء ← سَمَائِيّ/سَمَاوِيّ |
| 6 | Mamdud — hamzah tambahan ta'nits | Wajib diganti wawu | صَحْرَاء ← صَحْرَاوِيّ |
| 7 | Akhir ya' tasydid, setelah 1 huruf | Ya' 1 kembali asal+fathah, ya' 2 → wawu | طَيّ ← طَوَوِيّ |
| 7 | Akhir ya' tasydid, setelah 2 huruf | Ya' 1 dibuang, ya' 2 → wawu | عَلِيّ ← عَلَوِيّ |
| 7 | Akhir ya' tasydid, setelah 3+ huruf | Ya' tasydid dibuang, diganti ya' nisbat baru | الشَّرْقِيَّة ← الشَّرْقِيّ |
| 8 | Tengah ada ya' tasydid kasrah | Ya' kedua dibuang | سَيِّد ← سَيْدِيّ |
| 9 | Tsulatsi kehilangan huruf akhir | Huruf dikembalikan | أَب ← أَبَوِيّ |
Bab 10 adalah pasangan pembahasan yang sangat paralel dengan Bab 9 (Tashghir) — keduanya sama-sama membahas perubahan bentuk isim berdasarkan klasifikasi huruf akhir dari Bab 4 (maqshur, manqush, mamdud). Perbedaan utamanya hanya pada tujuan perubahan: tashghir untuk mengecilkan makna, sedangkan nisbat untuk menyandarkan/mengafiliasikan pada sesuatu. Menguasai kedua bab ini sekaligus akan sangat memudahkan, karena banyak logika dan pola pikirnya bisa saling menguatkan pemahaman.