'Ilmu Sharaf · Bab 10

النَّسَب

Nisbat — Penyandaran/Afiliasi Kata

Fasih Academy

Berdasarkan kitab «البداية في علم الصرف» karya Ali An-Namr

Pengantar Konsep

Nisbat adalah mekanisme dalam bahasa Arab untuk menunjukkan penyandaran atau afiliasi suatu hal kepada hal lain — misalnya menyandarkan seseorang pada asal kotanya, atau menyandarkan sesuatu pada bidang ilmunya. Dalam bahasa Indonesia, konsep ini kurang lebih setara dengan akhiran "-i" atau "-iah". Secara teknis, nisbat dilakukan dengan menambahkan ya' bertasydid di akhir kata, dengan huruf sebelumnya dikasrahkan. Bab ini hampir sama persis strukturnya dengan Bab 9 (Tashghir) — banyak kasus khusus tergantung jenis huruf akhir kata (maqshur, mamdud, manqush — sesuai klasifikasi Bab 4).

1 Pengertian Nisbat الضابط الأول▾

Nisbat adalah proses menambahkan ya' bertasydid di akhir kata yang huruf sebelumnya dikasrahkan, untuk menunjukkan penyandaran suatu hal kepada hal lain.

2 Kaidah Umum Nisbat الضابط الثاني▾

Kaidah dasarnya sederhana: tambahkan ya' bertasydid dikasrahkan huruf sebelumnya di akhir isim yang akan dinisbatkan.

مِصْر → مِصْرِيّ

Mesir → orang Mesir/bersifat Mesir

نَحْو → نَحْوِيّ

ilmu Nahwu → ahli Nahwu/bersifat Nahwu

Inilah pola dasar yang berlaku untuk mayoritas kata dalam bahasa Arab — namun seperti halnya tashghir di Bab 9, ada banyak kasus khusus yang perlu diperhatikan tergantung struktur akhir kata.

3 Isim Berakhiran Ta' Ta'nits الضابط الثالث▾

Jika isim berakhiran ta' ta'nits (ة), huruf ta' tersebut dibuang terlebih dahulu sebelum ditambahkan ya' nisbat.

هَنْدَسَة → هَنْدَسِيّ

teknik/engineering → bersifat teknik

سَاعَة → سَاعِيّ

jam

مَكَّة → مَكِّيّ

Makkah → orang Makkah

كُوفَة → كُوفِيّ

Kufah → orang Kufah

Aturan ini logis karena ta' marbuthah pada dasarnya adalah tanda gramatikal (penanda mu'annats), bukan bagian dari akar kata itu sendiri — sehingga wajar jika dibuang saat proses nisbat yang berfokus pada akar/inti kata.
4 Isim Maqshur (Berakhiran Alif) الضابط الرابع▾

Memerlukan perlakuan khusus tergantung posisi alifnya:

1 · Alif di huruf ke-3

Diganti wawu.

قِنَا → قِنَوِيّ
تَلَا → تَلَوِيّ
رِبَا → رِبَوِيّ

riba → bersifat riba

2 · Alif di huruf ke-4

Tergantung harakat huruf kedua:

Huruf kedua berharakat (bukan sukun): alif dibuang.

كَنَدَا→كَنَدِيّ

Huruf kedua sukun: tiga pilihan sama-sama sah.

dibuangطَنْطِيّ
diganti wawuطَنْطَوِيّ
+wawu, alif tetapطَنْطَاوِيّ

Asal: طَنْطَا (kota Tanta di Mesir)

3 · Alif di huruf ke-5 atau lebih

Wajib dibuang.

فَرَنْسَا → فَرَنْسِيّ

Prancis

أَمْرِيكَا → أَمْرِيكِيّ

Amerika

إِيطَالِيَا → إِيطَالِيّ

Italia

يُوغُسْلَافِيَا → يُوغُسْلَافِيّ

Yugoslavia

Keempat contoh ini semuanya nama negara serapan asing — menunjukkan bahwa kaidah nisbat klasik tetap dipakai secara aktif untuk kata-kata modern/asing dalam bahasa Arab kontemporer.
5 Isim Manqush (Berakhiran Ya') الضابط الخامس▾
1 · Ya' di huruf ke-3

Diganti wawu, huruf sebelumnya difathahkan.

الشَّجِي → الشَّجَوِيّ

yang bersedih

النَّدِي → النَّدَوِيّ

yang basah/lembab

2 · Ya' di huruf ke-4

Boleh dibuang atau diganti wawu — dua-duanya sah.

dibuangالنَّادِيّ
diganti wawuالنَّادَوِيّ

Asal: النَّادِي (klub/tempat berkumpul)

dibuangالدَّاعِيّ
diganti wawuالدَّاعَوِيّ

Asal: الدَّاعِي (yang berdoa/memanggil, isim fa'il dari دَعَا)

3 · Ya' di huruf ke-5 atau lebih

Wajib dibuang.

المُهْتَدِي → المُهْتَدِيّ

yang mendapat petunjuk

المُسْتَعْلِي → المُسْتَعْلِيّ

yang meninggikan diri

Pola simetris antara Dhabith 4 (maqshur) dan Dhabith 5 (manqush): keduanya sama-sama membagi tiga kasus berdasarkan posisi huruf 'illat (ketiga/keempat/kelima+), dan keduanya sama-sama "wajib dibuang" pada posisi kelima atau lebih. Perbedaannya hanya pada perlakuan posisi ketiga dan keempat, disesuaikan jenis huruf 'illat (alif vs ya').
6 Isim Mamdud (Berakhiran Hamzah) الضابط السادس▾

Dibedakan berdasarkan asal-usul hamzahnya:

1 · Hamzah asli

Tetap sebagai hamzah.

ابْتِدَاء→ابْتِدَائِيّ

(permulaan → bersifat permulaan/dasar, seperti "pendidikan dasar")

2 · Hamzah hasil perubahan (wawu/ya')

Boleh tetap hamzah ATAU diganti wawu.

tetap hamzahسَمَائِيّ
diganti wawuسَمَاوِيّ

Asal: سَمَاء (langit, asal hurufnya wawu)

tetap hamzahفِدَائِيّ
diganti wawuفِدَاوِيّ

Asal: فِدَاء (tebusan, asal hurufnya ya')

Menariknya, meski asal hurufnya berbeda (سَمَاء dari wawu, فِدَاء dari ya'), keduanya sama-sama boleh diganti menjadi wawu — bukan dikembalikan ke huruf asalnya masing-masing. Ini berbeda dengan pola pada isim manqush (Dhabith 5) di mana huruf tetap dijaga sesuai posisinya.
3 · Hamzah tambahan murni ta'nits

Wajib diganti wawu.

صَحْرَاء→صَحْرَاوِيّ

(padang pasir → bersifat gurun/padang pasir)

7 Isim Berakhiran Ya' Bertasydid الضابط السابع▾

Berbeda dari Dhabith 5 (ya' tunggal) — di sini yang dibahas isim berakhiran ya' ganda/bertasydid. Pembagian berdasarkan berapa huruf sebelum ya' bertasydid tersebut:

1 · Setelah SATU huruf

Ya' pertama dikembalikan ke huruf asalnya (wawu/ya', tergantung akar) + fathah; ya' kedua diganti wawu.

طَيّ→طَوَوِيّ

(lipatan)

حَيّ→حَيَوِيّ

(hidup/kampung → bersifat hidup/vital — dipakai luas dalam bahasa Arab modern untuk "vital/esensial")

2 · Setelah DUA huruf

Ya' pertama dibuang, ya' kedua diganti wawu, disertai fathah pada huruf sebelumnya.

عَلِيّ→عَلَوِيّ

(Ali → keturunan/pengikut Ali)

3 · Setelah TIGA huruf atau lebih

Seluruh ya' bertasydid dibuang, digantikan ya' nisbat yang baru.

الشَّرْقِيَّة→الشَّرْقِيّ

(bagian timur, sudah dalam bentuk nisbat sebelumnya)

8 Isim dengan Ya' Bertasydid Berkasrah di Tengah الضابط الثامن▾

Berbeda dari Dhabith 7 — di sini ya' bertasydid berkasrah berada di tengah kata (bukan di akhir). Untuk kemudahan pengucapan (takhfif), ya' kedua yang berkasrah dibuang, ya' pertama tetap dipertahankan, kemudian ditambahkan ya' nisbat baru di akhirnya.

سَيِّد → سَيْدِيّ

tuan/pemimpin

مَيِّت → مَيْتِيّ

mayat/yang mati

9 Isim Tsulatsi yang Huruf Akhirnya Dibuang الضابط التاسع▾

Paralel dengan Bab 9 (Tashghir) Dhabith 4 — isim tsulatsi yang sudah kehilangan huruf lam-nya (huruf ketiga), sehingga hanya tersisa dua huruf. Saat dinisbatkan, huruf yang hilang wajib dikembalikan, dan huruf sebelumnya difathahkan.

أَب → أَبَوِيّ

ayah → bersifat kebapakan/paternal

لُغَة → لُغَوِيّ

bahasa → bersifat kebahasaan/linguistik

دَم → دَمَوِيّ

darah → bersifat darah, seperti "peredaran darah"

Perhatikan kemiripan dengan Bab 9 Dhabith 4 nomor 3 (tashghir isim tsulatsi kehilangan huruf: عِدَة → وُعَيْدَة, أَب → أُبَيّ) — keduanya sama-sama menerapkan prinsip "kembalikan huruf yang hilang" sebelum proses perubahan diterapkan. Ini menunjukkan bahwa tashghir dan nisbat sama-sama membutuhkan bentuk "utuh" dari kata sebagai dasar perubahannya, bukan bentuk yang sudah terpotong.
Penutup

Rangkuman Bab 10

Kaidah Dasar

Tambahkan ya' bertasydid dikasrahkan huruf sebelumnya. Contoh: مِصْر ← مِصْرِيّ.

Sembilan Kasus Khusus

DhabithJenis IsimPerlakuanContoh
3Berakhiran ta' ta'nitsTa' dibuangسَاعَة ← سَاعِيّ
4Maqshur — alif di huruf 3Alif → wawuقِنَا ← قِنَوِيّ
4Maqshur — alif di huruf 4Dibuang (huruf 2 berharakat) / 3 pilihan (huruf 2 sukun)كَنَدَا ← كَنَدِيّ
4Maqshur — alif di huruf 5+Wajib dibuangفَرَنْسَا ← فَرَنْسِيّ
5Manqush — ya' di huruf 3Ya' → wawu, huruf sblm fathahالشَّجِي ← الشَّجَوِيّ
5Manqush — ya' di huruf 4Boleh dibuang atau diganti wawuالنَّادِي ← النَّادِيّ/النَّادَوِيّ
5Manqush — ya' di huruf 5+Wajib dibuangالمُهْتَدِي ← المُهْتَدِيّ
6Mamdud — hamzah asliTetap hamzahابْتِدَاء ← ابْتِدَائِيّ
6Mamdud — hamzah dari wawu/ya'Boleh tetap/diganti wawuسَمَاء ← سَمَائِيّ/سَمَاوِيّ
6Mamdud — hamzah tambahan ta'nitsWajib diganti wawuصَحْرَاء ← صَحْرَاوِيّ
7Akhir ya' tasydid, setelah 1 hurufYa' 1 kembali asal+fathah, ya' 2 → wawuطَيّ ← طَوَوِيّ
7Akhir ya' tasydid, setelah 2 hurufYa' 1 dibuang, ya' 2 → wawuعَلِيّ ← عَلَوِيّ
7Akhir ya' tasydid, setelah 3+ hurufYa' tasydid dibuang, diganti ya' nisbat baruالشَّرْقِيَّة ← الشَّرْقِيّ
8Tengah ada ya' tasydid kasrahYa' kedua dibuangسَيِّد ← سَيْدِيّ
9Tsulatsi kehilangan huruf akhirHuruf dikembalikanأَب ← أَبَوِيّ

Bab 10 adalah pasangan pembahasan yang sangat paralel dengan Bab 9 (Tashghir) — keduanya sama-sama membahas perubahan bentuk isim berdasarkan klasifikasi huruf akhir dari Bab 4 (maqshur, manqush, mamdud). Perbedaan utamanya hanya pada tujuan perubahan: tashghir untuk mengecilkan makna, sedangkan nisbat untuk menyandarkan/mengafiliasikan pada sesuatu. Menguasai kedua bab ini sekaligus akan sangat memudahkan, karena banyak logika dan pola pikirnya bisa saling menguatkan pemahaman.