Penjelasan: Apabila diperhatikan tiap bagian dari tiga contoh ini secara terpisah ("Zaid", "mujtahid", "ja'a", "'Amr", dst.), tidak ada faedah yang membuat baik untuk berhenti atasnya — masing-masing hanya disebut kalimah (kata). Namun bila diperhatikan tiap contoh secara utuh, ia memberikan faedah yang sempurna sehingga disebut kalam menurut ahli nahwu.
Kalam terkadang tersusun dari dua kata, salah satunya tampak (zhahirah), dan yang lain tersembunyi (mustatirah).
Contoh: Iqra' (Bacalah!) — ini bukan satu kata, melainkan dua kata: yang tampak "iqra'", dan yang tersembunyi "anta" (kamu).
Satu kata (kalimah tunggal) tidak disebut kalam menurut ahli nahwu, karena ia tidak memberikan faedah yang membuat baik untuk berhenti atasnya.
Kecuali apabila kalam itu diperkirakan (ada bagian yang tersimpan / muqaddar):
| Aspek | Penjelasan |
|---|---|
| Definisi | Susunan dari dua kata atau lebih, yang memberikan faedah yang membuat baik untuk berhenti (diam) atasnya. |
| Contoh 1 | Zaidun katibun — Zaid adalah seorang penulis. |
| Contoh 2 | Jalasa 'Amrun — Amr telah duduk. |
| Contoh 3 | Inna as-sama'a mumthiratun — Sesungguhnya langit sedang menurunkan hujan. |
| Kalam Bukan Nahwi | Kalam Nahwi |
|---|---|
| In ja'a — Jika datang... | Jalasa al-amiru — Sang amir telah duduk. |
| Ra'aitu — Aku telah melihat... | Ra'aitu asadan — Aku telah melihat seekor singa. |
| Fa'ala — Telah melakukan... | Sha'ida al-khathibu 'ala al-minbari — Khatib naik ke atas mimbar. |
| Kana al-jawwu — Cuacanya adalah... | Al-muslimuna mujtahiduna — Kaum muslimin adalah orang-orang yang bersungguh-sungguh. |
Buatlah setiap kata berikut ke dalam sebuah kalam yang baik untuk berhenti atasnya: asy-syajarah (pohon), al-asad (singa), al-laban (susu), al-Qur'an, al-kitab (buku), an-nahwu, al-jannah (surga), ash-shalah (shalat), al-'ilm (ilmu), al-mauz (pisang), ath-tha'am (makanan), al-qalam (pena), at-tilmidz (murid), al-ustadz (guru), al-masjid, al-lail (malam), al-mal (harta).
Latihan ini bersifat kreatif (jawaban bervariasi) — susunlah setiap kata menjadi kalimat sempurna, misalnya: "Asy-syajaratu jamilatun" (Pohon itu indah).
Buatlah setiap kata berikut ke dalam sebuah kalam yang tidak baik untuk berhenti atasnya (belum sempurna faedahnya): ath-thalib (murid/pelajar), al-fiqh, al-ardh (bumi), al-waraqah (kertas), as-sama' (langit), al-'ushfurah (burung pipit), ath-thariq (jalan).
Contoh pola: gabungkan kata dengan huruf jarr tanpa pelengkap, misalnya "Fi ath-thariqi..." (Di jalan...) — belum memberi faedah sempurna.
Jenis-jenis kalimah ada tiga, yaitu:
Contoh: Muhammad, Asad (singa), Ardh (tanah/bumi), Bait (rumah), Mal (harta), Syajarah (pohon), Al-Hamd (segala puji).
Semua kata ini menunjukkan makna pada dirinya sendiri, dan tidak dimasuki unsur waktu; karena itu disebut isim. Adapun waktu bisa berupa madhi (lampau), mudhari' (sekarang/akan datang), atau amr (perintah).
Setiap kata yang menunjukkan manusia, hewan, tumbuhan, atau benda mati, maka ia adalah isim.
Contoh: hafizha (telah menjaga), jalasa (telah duduk), yahfazhu (sedang/akan menjaga), yajlisu (sedang/akan duduk), ihfazh (jagalah!), ijlis (duduklah!).
Kata "hafizha" menunjukkan makna al-hifzh dan terikat waktu madhi (lampau). Kata "yahfazhu" terikat waktu hal (sekarang). Kata "ihfazh" terikat waktu mustaqbal (akan datang).
Contoh: fi, min, 'ala, lakin, ila, bala, hatta, 'an, sawfa, laita, la'alla.
Semua kata ini tidak menunjukkan makna pada dirinya sendiri kecuali apabila diikatkan dengan kata lain.
Apabila diperhatikan tiap huruf secara tersendiri tanpa konteks kalimat, tidak diperoleh faedah apa pun.
| Aspek | Isim | Fi'il | Huruf |
|---|---|---|---|
| Definisi | Menunjukkan makna pada dirinya sendiri, tidak terikat waktu. | Menunjukkan makna pada dirinya sendiri, terikat dengan waktu. | Menunjukkan makna pada selain dirinya. |
| Contoh | Zaid, syajarah, ha'ith, hishan, kitab, sayyarah | jalasa, qama, yajlisu, yaqumu, ijlis, qum | min, ila, inna, hatta, qad |
| Kata | Jenisnya |
|---|
Fi'il terbagi menjadi tiga jenis:
Contoh: tawadhdha'a (telah berwudhu), shalla (telah shalat), nama (telah tidur), shama (telah berpuasa), syariba (telah minum), akala (telah makan), qama (telah berdiri), taba (telah bertaubat), istaghfara (telah memohon ampun), nadima (telah menyesal).
Contoh: yatawadhdha'u, yushalli, yashumu, yanamu, ya'kulu, yasyrabu, yaqumu, yatubu, yastaghfiru, yandamu.
Fi'il mudhari' harus dimulai dengan salah satu huruf dari huruf-huruf kata "Anaitu" (hamzah, nun, ya', ta'), dan huruf itu bukan bagian dari asal kata.
Contoh: aktubu, naktubu, yaktubu, taktubu (semuanya bermakna "menulis" dengan pelaku berbeda) — semua ini fi'il mudhari' karena dimulai huruf mudhara'ah yang bukan asal kata.
Namun apabila huruf itu adalah bagian dari asal kata, ia tidak menjadi fi'il mudhari'. Contoh: amara (memerintah), nafadza (berlaku/terlaksana), yabisa (mengering), ta'iba (lelah) — bukan fi'il mudhari', karena huruf pertamanya adalah bagian dari asal kata itu sendiri.
Contoh: tawadhdha' (berwudhulah!), isyrab (minumlah!), indam (menyesallah!), istaghfir (mohon ampunlah!), shalli (shalatlah!), nam (tidurlah!), iqra' (bacalah!), takallam (berbicaralah!), tashaddaq (bersedekahlah!).
| Aspek | Fi'il Madhi | Fi'il Mudhari' | Fi'il Amr |
|---|---|---|---|
| Definisi | Menunjukkan peristiwa yang terjadi sebelum waktu berbicara. | Menunjukkan peristiwa yang terjadi pada waktu berbicara, atau sesudahnya. | Menunjukkan peristiwa yang diminta terjadinya sesudah waktu berbicara. |
| Contoh | ja'a, takallama, shama, nama, fa'ala | yahfazhu, yudzakiru, yanamu, yajtahidu, yaf'alu | ihfazh, ijtahid, iqra', ista'idd, idzhab |
| Fi'il | Jenisnya |
|---|
Setiap kata yang menerima salah satu tanda berikut ini, maka ia adalah isim:
Setiap kata yang menerima salah satu tanda berikut ini, maka ia adalah fi'il:
Pembagian tanda-tanda fi'il:
Contoh: hal, 'ala, rubba, hatta, inna, 'an, la'alla, fi.
| Tanda-Tanda Isim | Tanda-Tanda Fi'il | Tanda-Tanda Huruf |
|---|---|---|
| Alif-lam (al-masjidu); huruf jar (fi masjidin); nida' (ya Zaidu); tanwin (bustanun); jarr bil-idhafah (fi ad-daulati al-mutaqaddimati) | Qad (qad yajtahidu); as-sin & sawfa khusus mudhari' (sanaqra'u, sawfa nadzhabu); ta' ta'nits sakinah khusus madhi (akalat); permintaan + ya' mukhathabah/nun taukid khusus amr (uktubi, uktubanna) | Kata yang tidak menerima tanda isim maupun fi'il. Contoh: 'ala, ila, 'an, fi. |
| Kata | Jenisnya |
|---|
Contoh: kitab, laki-laki, perempuan, pohon, kertas, hewan — semuanya nakirah karena tidak menunjuk dzat tertentu yang kita kenal, namun sah digunakan untuk setiap anggota jenisnya.
| Nakirah | Ma'rifah |
|---|---|
| ghulamun (anak laki-laki) | al-ghulamu |
| rajulun (laki-laki) | ar-rajulu |
| imra'atun (perempuan) | al-mar'atu |
| kitabun (buku) | al-kitabu |
| dzi'bun (serigala) | adz-dzi'bu |
| syajaratun (pohon) | asy-syajaratu |
| hayawanun (hewan) | al-hayawanu |
| tamrun (kurma) | at-tamru |
| baitun (rumah) | al-baitu |
Menunjukkan mutakallim (orang pertama), mukhathab (orang kedua), atau gha'ib (orang ketiga).
Nama orang, hewan, tumbuhan, benda mati, dan negeri. Contoh: Zaid, Khadijah, Asad (singa), Fahd, Aruz (beras), Jidar (dinding), Makkah.
Contoh: ar-rajulu, al-kitabu, asy-syajaratu, al-hamdu, ash-shalatu, ash-shabru, al-birru, al-'uququ, al-kadzibu.
Dua baris pertama sudah dicontohkan pada sumber asli.
| Kata | Jenisnya |
|---|