Bina' adalah kata yang bentuk akhirnya TETAP (tidak berubah) apa pun posisinya dalam kalimat — seperti kata benda kaku yang tak terpengaruh jabatan gramatikalnya.
I'rab adalah kata yang bentuk akhirnya BERUBAH-UBAH mengikuti posisi/fungsinya dalam kalimat (subjek, objek, dsb).
Maka setiap kata yang akhirnya harus dhammah, fathah, kasrah, atau sukun disebut mabni 'ala adh-dhamm (dibina' dengan dhammah), mabni 'ala al-fath, mabni 'ala al-kasr, atau mabni 'ala as-sukun. Ini disebut ahwal al-bina' (keadaan-keadaan bina').
Kata-kata yang mabni (tetap/tidak berubah): sebagian isim, seluruh huruf, seluruh fi'il madhi, fi'il amr, dan fi'il mudhari' yang diakhiri nun taukid atau nun niswah.
Dhama'ir "ana, huwa, ta' al-fa'il"; isim isyarah kecuali "hadzaini dan hataini"; isim mawshul kecuali "al-ladzaini dan al-latayni"; dan isim istifham kecuali "ayyi". Semua isim ini mabni, tetap pada satu keadaan: ada yang tetap sukun, fathah, dhammah, atau kasrah.
Fi, ila, 'an, la'alla, mundzu1, lam jarr. Semua huruf ini mabni: ada yang tetap sukun (fi, ila, 'an), tetap fathah (la'alla), tetap dhammah (mundzu), dan tetap kasrah (lam jarr).
Akala, syariba, hafizha, jalasa — semuanya mabni dengan fathah, karena ia fi'il madhi.
Uktub, unzhur, if'al, iqra' — semuanya mabni dengan sukun, karena ia fi'il amr.
Yantashiranna, yajlisan — mabni karena diakhiri nun taukid (tsaqilah pada yang pertama, khafifah pada yang kedua). Yaqra'anna, yahfazhna — mabni dengan sukun karena diakhiri nun niswah (penanda jamak perempuan).
Pada asalnya, isim itu mu'rab (dapat berubah bentuk akhirnya), namun ada sebagian isim yang mabni, di antaranya:
Intinya: bina' = kata yang "membeku" bentuk akhirnya. Contoh mudah: kata "ini" (hadza) tetap dieja sama, baik sebagai subjek, objek, maupun setelah kata depan — tidak berubah seperti isim mu'rab.
Kata mabni umumnya adalah kata-kata "tertutup/khusus": kata ganti (dhama'ir), kata tunjuk, kata sambung, kata tanya, kata syarat, semua huruf, dan semua fi'il madhi/amr.
Cara mudah mengingat: kata-kata yang jumlahnya terbatas dan sudah 'hafal luar kepala' (dhama'ir, isim isyarah, dst.) cenderung mabni, sedangkan isim-isim umum (nama benda, orang, tempat) pada dasarnya mu'rab.
Ini disebut ahwal al-i'rab (keadaan-keadaan i'rab), yang terbagi menjadi tiga jenis:
Kata-kata yang mu'rab (dapat berubah bentuk akhirnya) adalah: mayoritas isim, dan seluruh fi'il mudhari' kecuali apabila tersambung dengan nun taukid, atau nun niswah.
I'rab terkadang berupa lafal (tampak), dan terkadang berupa taqdir (perkiraan/tersembunyi).
I'rab Lafzhi: i'rab yang tidak ada penghalang untuk diucapkan.
I'rab Taqdiri: i'rab yang ada penghalang untuk diucapkan. Penghalang itu ada tiga jenis:
(Sulitnya/tidak mungkinnya mengucapkan harakat) — karena kata diakhiri alif maqshurah, seperti: al-fata, ar-ridha, al-Mushthafa. Diperkirakan semua harakat (dhammah, fathah, kasrah).
(Beratnya mengucapkan harakat) — karena kata diakhiri ya' manqushah atau wawu, seperti: al-ati, ad-da'i, al-qadhi, al-'adi, yad'u. Diperkirakan hanya dhammah dan kasrah; adapun fathah tetap tampak karena ringannya.
(Penyesuaian) — karena kata diakhiri ya' mutakallim (ya' kepunyaan orang pertama), seperti: waladi, kitabi, qalami, baiti, shalati. Diperkirakan semua harakat (dhammah, fathah, kasrah).
I'rab lafzhi = harakatnya BENAR-BENAR terdengar/tertulis (biasa). I'rab taqdiri = harakatnya ADA secara teori tapi tidak diucapkan karena tiga alasan teknis pengucapan.
Trik mengingat 3 jenis penghalang (mawani'): (1) Ta'adzdzur — kata berakhiran alif (fata, 'asha) benar-benar TIDAK BISA diberi harakat apa pun. (2) Tsiql — kata berakhiran ya'/wawu (qadhi, da'i) BISA diberi fathah (ringan), tapi dhammah/kasrah terasa berat sehingga disembunyikan. (3) Munasabah — kata berakhiran ya' mutakallim ('kepunyaanku', seperti kitabi) disembunyikan harakatnya demi keserasian bunyi dengan ya' itu sendiri.
Karena tiga alasan itulah kita tetap bisa menyebut i'rabnya (rafa'/nashab/jarr) walau harakatnya tidak kelihatan — sebab i'rab itu soal kedudukan kata dalam kalimat, bukan semata bunyi hurufnya.
| Aspek | Bina' | I'rab |
|---|---|---|
| Definisi | Keharusan akhir kata untuk tetap pada satu keadaan dalam semua susunan kalimat, seperti dhammah, fathah, kasrah, atau sukun. | Berubahnya keadaan akhir kata sesuai kedudukannya dalam kalimat, berupa rafa', nashab, jarr, dan jazm. |
| Keadaan-keadaannya | Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun. | Rafa', nashab, jarr, dan jazm. |
| Jenis kata yang mengalaminya | Sebagian isim, seluruh huruf, seluruh fi'il madhi, fi'il amr, dan fi'il mudhari' yang diakhiri nun taukid atau nun niswah. | Mayoritas isim, dan seluruh fi'il mudhari' kecuali yang tersambung nun taukid atau nun niswah. |
| Aspek | I'rab Lafzhi | I'rab Taqdiri |
|---|---|---|
| Definisi | I'rab yang tidak ada penghalang untuk diucapkan. | I'rab yang ada penghalang untuk diucapkan. |
| Jenis & Contoh | Dhammah (ath-thalibu yatakallamu); Fathah (kallama Zaidun ar-rajula); Kasrah (jalastu 'ala ad-darraji); Sukun (lam yusafir Muhammadun). | Ta'adzdzur (ar-raha, al-hija, al-'asha); Tsiql (ad-da'i, an-nadi, as-sa'i — hanya fathah yang tampak); Munasabah (kitabi, shadiqi, mu'allimi). |
1. Lihat: Al-Adzkar, karya An-Nawawi, hlm. 35. (Mundzu: digunakan sebagai huruf, dan juga sebagai isim.)
| Kata | Penghalangnya |
|---|