Fasih Academy
الْفَصْلُ الثَّانِي: أَحْوَالُ الْبِنَاءِ

Al-Bina' wal I'rab

Bab 2 · Fasal 2: Keadaan-Keadaan Bina'
Pasal ini terdiri dari lima masalah, merinci keadaan-keadaan bina' pada: isim, fi'il madhi, fi'il amr, fi'il mudhari', dan huruf.
Pengantar Singkat

Pasal ini menjelaskan RINCIAN dari konsep bina' yang sudah dipelajari di Pasal 1: setiap jenis kata mabni (isim, fi'il madhi, fi'il amr, fi'il mudhari' yang mabni, dan huruf) punya pola/aturan tersendiri tentang harakat apa yang tetap melekat padanya, dan dalam kondisi apa polanya berubah.

Kunci membaca pasal ini: perhatikan pemicu (sabab) di balik setiap keadaan bina' — biasanya berupa akhiran/partikel tertentu yang menempel pada kata (seperti wawu jama'ah, ta' muta-harrik, nun taukid, nun niswah, dsb).

1Masalah Pertama: Keadaan-Keadaan Bina' Isim

Bina' isim memiliki empat keadaan:
Keadaan Pertama: Bina' dengan Fathah

Di antara contohnya: kaifa (bagaimana), huwa (dia), al-ladzina (yang), al-ana (sekarang).

Keadaan Kedua: Bina' dengan Dhammah

Di antara contohnya: ta' al-fa'il (ta' pelaku), nahnu (kami/kita), haitsu (di mana), mundzu (sejak).

Keadaan Ketiga: Bina' dengan Kasrah

Di antara contohnya: ha'ula'i (mereka ini), hadzihi (ini).

Keadaan Keempat: Bina' dengan Sukun

Di antara contohnya: hum (mereka), al-ladzi (yang), man (siapa).

Penjelasan Tambahan

Isim-isim yang mabni ini (dhama'ir, isim isyarah, isim mawshul, isim istifham/syarat) TIDAK mengikuti pola i'rab biasa — harakat akhirnya sudah 'baku' sejak awal, tinggal dihafal per kata, bukan dipelajari sebagai kaidah rumus.

Cara belajar praktis: buat daftar hafalan per kelompok kata (semua dhama'ir + harakat bawaannya, semua isim isyarah + harakatnya, dst.) daripada mencoba mencari rumus umum — karena memang tidak ada rumus tunggal untuk isim mabni, murni hafalan kosakata.

2Masalah Kedua: Keadaan-Keadaan Bina' Fi'il Madhi

Bina' fi'il madhi memiliki tiga keadaan:
Keadaan Pertama: Dibina' dengan Fathah

Apabila tidak ada sesuatu yang menyambung padanya. Inilah hukum asal pada fi'il madhi.

  • Ja'a Zaidun — Zaid telah datang.
  • Dzahaba 'Amrun — 'Amr telah pergi.
Keadaan Kedua: Dibina' dengan Dhammah

Apabila tersambung dengannya wawu jama'ah (wawu jama'ah berkedudukan sebagai fa'il yang mabni).

  • Al-Muslimuna ijtahadu — Kaum muslimin telah bersungguh-sungguh.
  • Ath-Thullabu najahu — Para murid telah lulus.
Keadaan Ketiga: Dibina' dengan Sukun

Apabila tersambung dengannya ta' muta-harrikah (ta' yang berharakat), atau nun niswah, atau "na" pelaku.

  • Hafizhtu al-Qur'ana — Aku telah menghafal Al-Qur'an. (ta' muta-harrikah)
  • Hafizhta al-Qur'ana — Engkau (lk) telah menghafal Al-Qur'an. (ta' muta-harrikah)
  • Hafizhti al-Qur'ana — Engkau (pr) telah menghafal Al-Qur'an. (ta' muta-harrikah)
  • An-Nisa'u hafizhna al-Qur'ana — Para wanita telah menghafal Al-Qur'an. (nun niswah)
  • Hafizhna al-Qur'ana — Kami telah menghafal Al-Qur'an. ("na" pelaku)

Tambahan-tambahan ini — ta' muta-harrikah, nun niswah, na al-fa'ilin — berkedudukan sebagai dhamir mabni pada posisi rafa' sebagai fa'il.

Penjelasan Tambahan

Ingat pola sederhana: fi'il madhi DEFAULT-nya fathah. Baru berubah jadi DHAMMAH kalau kemasukan "wawu jama'ah" (akhiran -u untuk 'mereka [lk] telah...'), dan berubah jadi SUKUN kalau kemasukan akhiran subjek yang berupa huruf hidup: ta' (aku/kamu), nun niswah (para wanita), atau na (kami).

Analogi Indonesia: seperti kata kerja dasar yang tetap sama bentuknya, tapi 'akhirannya' berubah tergantung siapa pelakunya — hafizhtu (aku), hafizhta (kamu lk), hafizhti (kamu pr), hafizhna (kami/mereka pr).

3Masalah Ketiga: Keadaan-Keadaan Bina' Fi'il Amr

Bina' fi'il amr memiliki empat keadaan:
Keadaan Pertama: Dibina' dengan Sukun

Apabila akhirnya shahih (bukan huruf 'illah) serta tidak ada sesuatu yang tersambung padanya, ATAU apabila tersambung dengannya nun niswah.

  • Iqra' durusaka — Bacalah pelajaran-pelajaranmu!
  • Iqra'na durusakunna — Bacalah (wahai para wanita) pelajaran-pelajaran kalian!

Ash-Shahih al-Akhir (yang shahih akhirnya) adalah: yang tidak diakhiri huruf 'illah. Huruf 'illah ada tiga: wawu, alif, ya'.

Keadaan Kedua: Dibina' dengan Fathah

Apabila tersambung dengannya nun taukid.

  • Jahidanna fi sabilillah — Bersungguh-sungguhlah kalian di jalan Allah! (nun taukid tsaqilah/bertasydid)
  • Hafizhan 'ala adabin naum — Jagalah adab tidur! (nun taukid khafifah/ringan)
Keadaan Ketiga: Dibina' dengan Membuang Nun

Apabila tersambung dengannya alif dua orang, atau wawu jama'ah, atau ya' mukhathabah (lawan bicara perempuan).

  • Ta'amala birifqin — Berlemah-lembutlah kalian berdua! (alif dua orang)
  • Ta'amalu birifqin — Berlemah-lembutlah kalian! (wawu jama'ah)
  • Ta'amali birifqin — Berlemah-lembutlah engkau (perempuan)! (ya' mukhathabah)
Keadaan Keempat: Dibina' dengan Membuang Huruf 'Illah

Apabila akhirnya mu'tall (berhuruf 'illah).

  • Shalli 'ala an-Nabiyyi — Bershalawatlah kepada Nabi! (asalnya "shalliy" → ya' dibuang, diganti kasrah)
  • Ud'u rabbaka — Berdoalah kepada Tuhanmu! (asalnya "ud'u(w)" → wawu dibuang, diganti dhammah)
  • Taharra ash-shidqa — Carilah kebenaran! (asalnya "taharra(y)" → alif maqshurah dibuang, diganti fathah)
Penjelasan Tambahan

Empat keadaan ini sebenarnya mengikuti prinsip yang sama dengan fi'il mudhari' (sebentar lagi dibahas): sukun adalah default, lalu berubah tergantung apa yang menempel di akhirnya.

Pola cepatnya: + nun taukid → fathah. + alif/wawu/ya' (tanda dual/jamak/mukhathabah) → nun-nya hilang (dibuang, bukan diganti harakat). Akhiran huruf 'illah (wawu/alif/ya') → hurufnya dibuang, diganti harakat pendek yang sesuai (kasrah untuk ya', dhammah untuk wawu, fathah untuk alif).

4Masalah Keempat: Keadaan-Keadaan Bina' Fi'il Mudhari'

Hukum asal pada fi'il mudhari' adalah bahwa ia mu'rab, dan tidak dibina' kecuali dalam dua keadaan:
Keadaan Pertama: Dibina' dengan Fathah

Apabila tersambung dengannya nun taukid.

  • Lanudzakiranna durusana — Sungguh kami akan mengulang-ulang pelajaran kami!
  • Ath-Thullabu yahfazhanna durusahum — Para murid sungguh akan menghafal pelajaran mereka.
Keadaan Kedua: Dibina' dengan Sukun

Apabila tersambung dengannya nun niswah.

  • Ath-Thalibatu yajtahidna — Para murid perempuan bersungguh-sungguh.
  • An-Nisa'u yurattibna buyutahunna — Para wanita merapikan rumah-rumah mereka.
Penjelasan Tambahan

Ingat: fi'il mudhari' PADA DASARNYA mu'rab (i'rabnya bisa berubah rafa'/nashab/jazm). Ia HANYA menjadi mabni pada dua kondisi khusus ini — keduanya karena kemasukan akhiran nun (nun taukid atau nun niswah), yang "mengunci" bentuknya sehingga tidak bisa lagi menerima tanda i'rab biasa.

Ini konsisten dengan pola fi'il amr sebelumnya: setiap kali fi'il apa pun (amr atau mudhari') kemasukan nun taukid, ia otomatis fathah; setiap kali kemasukan nun niswah, ia otomatis sukun.

5Masalah Kelima: Keadaan-Keadaan Bina' Huruf

Bina' huruf memiliki empat keadaan:
Keadaan Pertama: Bina' dengan Fathah

Di antara contohnya: la'alla, tsumma, wawu 'athaf (huruf penghubung "dan").

Keadaan Kedua: Bina' dengan Dhammah

Di antara contohnya: mundzu (sejak).

Keadaan Ketiga: Bina' dengan Kasrah

Di antara contohnya: lam jarr, dan lam ta'lil (lam yang menunjukkan sebab/tujuan).

Keadaan Keempat: Bina' dengan Sukun

Di antara contohnya: hal, qad.

Penjelasan Tambahan

Sama seperti isim mabni, huruf-huruf ini juga murni hafalan — tidak ada rumus umum yang menentukan kenapa "la'alla" fathah sementara "mundzu" dhammah. Cara terbaik menguasainya adalah sering menemuinya dalam bacaan dan latihan.

◆Tabel Penjelasan Keadaan-Keadaan Bina'

Jenis KataKeadaan-Keadaan Bina'
IsimSebagiannya dibina' dengan dhammah, fathah, kasrah, atau sukun.
Fi'il Madhi[1] Fathah bila tak ada yang tersambung (jalasa). [2] Dhammah bila tersambung wawu jama'ah (jalasu). [3] Sukun bila tersambung ta' muta-harrikah, nun niswah, atau "na" pelaku (jalastu).
Fi'il Amr[1] Sukun bila akhirnya shahih & tak ada yang tersambung, atau tersambung nun niswah (ijlis). [2] Fathah bila tersambung nun taukid (ijlisanna). [3] Membuang nun bila tersambung alif dua orang, wawu jama'ah, atau ya' mukhathabah (ijlisa). [4] Membuang huruf 'illah bila akhirnya mu'tall (shalli).
Fi'il Mudhari'[1] Fathah bila tersambung nun taukid (yajlisanna). [2] Sukun bila tersambung nun niswah (yajlisna).
HurufDibina' dengan fathah, dhammah, kasrah, atau sukun. Seperti: la'alla, mundzu, lam jarr, hal, qad.

✎Tadribat — Pasal 2

Latihan Pertama — Benar / Salah

Latihan Kedua — Lengkapi Pernyataan

Latihan Ketiga — Esai

Latihan Keempat — Lengkapi Tabel (Keadaan Bina' & Sebabnya)

Baris pertama sudah dicontohkan pada sumber asli.

KataKeadaan Bina'nya
Skor Latihan (Benar/Salah & Tabel)
0 / 0

Isi nama, jawab semua soal Benar/Salah, lalu periksa tabel untuk mengaktifkan tombol kirim.