Pasal ini menjelaskan RINCIAN dari konsep bina' yang sudah dipelajari di Pasal 1: setiap jenis kata mabni (isim, fi'il madhi, fi'il amr, fi'il mudhari' yang mabni, dan huruf) punya pola/aturan tersendiri tentang harakat apa yang tetap melekat padanya, dan dalam kondisi apa polanya berubah.
Kunci membaca pasal ini: perhatikan pemicu (sabab) di balik setiap keadaan bina' — biasanya berupa akhiran/partikel tertentu yang menempel pada kata (seperti wawu jama'ah, ta' muta-harrik, nun taukid, nun niswah, dsb).
Di antara contohnya: kaifa (bagaimana), huwa (dia), al-ladzina (yang), al-ana (sekarang).
Di antara contohnya: ta' al-fa'il (ta' pelaku), nahnu (kami/kita), haitsu (di mana), mundzu (sejak).
Di antara contohnya: ha'ula'i (mereka ini), hadzihi (ini).
Di antara contohnya: hum (mereka), al-ladzi (yang), man (siapa).
Isim-isim yang mabni ini (dhama'ir, isim isyarah, isim mawshul, isim istifham/syarat) TIDAK mengikuti pola i'rab biasa — harakat akhirnya sudah 'baku' sejak awal, tinggal dihafal per kata, bukan dipelajari sebagai kaidah rumus.
Cara belajar praktis: buat daftar hafalan per kelompok kata (semua dhama'ir + harakat bawaannya, semua isim isyarah + harakatnya, dst.) daripada mencoba mencari rumus umum — karena memang tidak ada rumus tunggal untuk isim mabni, murni hafalan kosakata.
Apabila tidak ada sesuatu yang menyambung padanya. Inilah hukum asal pada fi'il madhi.
Apabila tersambung dengannya wawu jama'ah (wawu jama'ah berkedudukan sebagai fa'il yang mabni).
Apabila tersambung dengannya ta' muta-harrikah (ta' yang berharakat), atau nun niswah, atau "na" pelaku.
Tambahan-tambahan ini — ta' muta-harrikah, nun niswah, na al-fa'ilin — berkedudukan sebagai dhamir mabni pada posisi rafa' sebagai fa'il.
Ingat pola sederhana: fi'il madhi DEFAULT-nya fathah. Baru berubah jadi DHAMMAH kalau kemasukan "wawu jama'ah" (akhiran -u untuk 'mereka [lk] telah...'), dan berubah jadi SUKUN kalau kemasukan akhiran subjek yang berupa huruf hidup: ta' (aku/kamu), nun niswah (para wanita), atau na (kami).
Analogi Indonesia: seperti kata kerja dasar yang tetap sama bentuknya, tapi 'akhirannya' berubah tergantung siapa pelakunya — hafizhtu (aku), hafizhta (kamu lk), hafizhti (kamu pr), hafizhna (kami/mereka pr).
Apabila akhirnya shahih (bukan huruf 'illah) serta tidak ada sesuatu yang tersambung padanya, ATAU apabila tersambung dengannya nun niswah.
Ash-Shahih al-Akhir (yang shahih akhirnya) adalah: yang tidak diakhiri huruf 'illah. Huruf 'illah ada tiga: wawu, alif, ya'.
Apabila tersambung dengannya nun taukid.
Apabila tersambung dengannya alif dua orang, atau wawu jama'ah, atau ya' mukhathabah (lawan bicara perempuan).
Apabila akhirnya mu'tall (berhuruf 'illah).
Empat keadaan ini sebenarnya mengikuti prinsip yang sama dengan fi'il mudhari' (sebentar lagi dibahas): sukun adalah default, lalu berubah tergantung apa yang menempel di akhirnya.
Pola cepatnya: + nun taukid → fathah. + alif/wawu/ya' (tanda dual/jamak/mukhathabah) → nun-nya hilang (dibuang, bukan diganti harakat). Akhiran huruf 'illah (wawu/alif/ya') → hurufnya dibuang, diganti harakat pendek yang sesuai (kasrah untuk ya', dhammah untuk wawu, fathah untuk alif).
Apabila tersambung dengannya nun taukid.
Apabila tersambung dengannya nun niswah.
Ingat: fi'il mudhari' PADA DASARNYA mu'rab (i'rabnya bisa berubah rafa'/nashab/jazm). Ia HANYA menjadi mabni pada dua kondisi khusus ini — keduanya karena kemasukan akhiran nun (nun taukid atau nun niswah), yang "mengunci" bentuknya sehingga tidak bisa lagi menerima tanda i'rab biasa.
Ini konsisten dengan pola fi'il amr sebelumnya: setiap kali fi'il apa pun (amr atau mudhari') kemasukan nun taukid, ia otomatis fathah; setiap kali kemasukan nun niswah, ia otomatis sukun.
Di antara contohnya: la'alla, tsumma, wawu 'athaf (huruf penghubung "dan").
Di antara contohnya: mundzu (sejak).
Di antara contohnya: lam jarr, dan lam ta'lil (lam yang menunjukkan sebab/tujuan).
Di antara contohnya: hal, qad.
Sama seperti isim mabni, huruf-huruf ini juga murni hafalan — tidak ada rumus umum yang menentukan kenapa "la'alla" fathah sementara "mundzu" dhammah. Cara terbaik menguasainya adalah sering menemuinya dalam bacaan dan latihan.
| Jenis Kata | Keadaan-Keadaan Bina' |
|---|---|
| Isim | Sebagiannya dibina' dengan dhammah, fathah, kasrah, atau sukun. |
| Fi'il Madhi | [1] Fathah bila tak ada yang tersambung (jalasa). [2] Dhammah bila tersambung wawu jama'ah (jalasu). [3] Sukun bila tersambung ta' muta-harrikah, nun niswah, atau "na" pelaku (jalastu). |
| Fi'il Amr | [1] Sukun bila akhirnya shahih & tak ada yang tersambung, atau tersambung nun niswah (ijlis). [2] Fathah bila tersambung nun taukid (ijlisanna). [3] Membuang nun bila tersambung alif dua orang, wawu jama'ah, atau ya' mukhathabah (ijlisa). [4] Membuang huruf 'illah bila akhirnya mu'tall (shalli). |
| Fi'il Mudhari' | [1] Fathah bila tersambung nun taukid (yajlisanna). [2] Sukun bila tersambung nun niswah (yajlisna). |
| Huruf | Dibina' dengan fathah, dhammah, kasrah, atau sukun. Seperti: la'alla, mundzu, lam jarr, hal, qad. |
Baris pertama sudah dicontohkan pada sumber asli.
| Kata | Keadaan Bina'nya |
|---|